Sumber Photo cdp.khoirilanwar.com

Pertengahan Tahun 2017 lalu, terjadi insiden antara tentara Cina dan India yang ditugaskan berjaga di perbatasan kedua negara. Di wilayah sengketa tersebut, para personel militer memasang spanduk dari kedua sisi, mengklaim kedaulatan masing-masing. Diplomat India dan Cina lantas saling bertukar ancaman dan gertakan. Pertikaian perbatasan antara dua negara dengan populasi terbanyak dunia tersebut akhir-akhir ini berubah menjadi perkelahian fisik dan aksi saling melempar batu di pegunungan Himalaya.

Teknologi militer modern belakangan membuat negara-negara yang berseteru tak perlu sering bertatap muka. Nyatanya, di beberapa daerah kasus sengketa perbatasan, tentara dan warga sipil masih terpaksa hidup saling berdekatan dengan musuh mereka.

Contohnya adalah pembatas bawah tanah yang menghalangi terowongan Palestina menuju Israel, atau kasus India-Cina sebagai dua negara adidaya nuklir yang saling mengancam dan melempar batu, hingga prajurit Korea Utara yang ‘mengganggu’ tentara Korea Selatan di zona demiliterisasi. Isu perbatasan kerap menjadi sumber ketegangan, permusuhan, bahkan kadang perang.

Berikut lima perbatasan negara paling rawan kekerasan dan konflik di seluruh dunia;

INDIA-CHINA

Konvoi tentara India melewati wilayah Pangong, bersebelahan dengan batas negara RRC. Foto oleh Yawar Nazir/Getty Images

Sengketa panas antara dua negara adidaya nuklir ini diwarnai ratusan tentara yang harus bertatap muka di sepanjang perbatasan 4.023 kilometer tersebut. Ketegangan antara dua negara disebabkan oleh sebuah area seluas 54 kilometer persegi yang dikenal sebagai Dataran Dolam. Diklaim baik oleh Bhutan dan Cina, area tersebut mencakup sebuah dataran India penting berlajur sempit yang disebut sebagai Koridor Siliguri, dan diberikan julukan “leher ayam.”

Dataran ini menghubungkan India dengan daerah terpencil di timur negara tersebut. Sejak dahulu, pemerintah India khawatir Cina bisa memotong akses koridor tersebut apabila terjadi perang, dan membelah India menjadi dua bagian.

Ketegangan meningkat sejak Juni lalu, ketika tentara Cina mulai beroperasi di jalan tidak beraspal yang masuk wilayah Bhutan, negara sekutu India.

Di pegunungan Himalaya, ketika India sedang merayakan hari kemerdekaannya, puluhan tentara India dan Cina malah terlibat dalam perkelahian fisik dan saling lempar batu selama beberapa jam, sebelum akhirnya kedua pihak sepakat meredakan ketegangan.

KOREA UTARA-KOREA SELATAN

Prajurit Korut (di kejauhan) mengamati sisi di Korsel yang dikunjungi oleh pejabat PBB dalam rangka perayaan 64 tahun gencatan senjata Semenanjung Korea di Desa Panmunjom, Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membelah kedua negara. Foto oleh Jung Yeon-Je/Reuters/Pool

Mungkin inilah sengketa perbatasan paling terkenal sepanjang masa. Tentara Korut dan Korsel hanya terpisahkan dalam hitungan meter selama lebih dari 60 tahun, ketika semenanjung Korea dibagi menjadi dua sesudah Perang Korea berakhir 1953.

Saking tegangnya situasi di perbatasan, tentara Korsel masih bergandengan tangan ketika membuka ruang konferensi yang jarang digunakan di Zona Demiliterisasi Korea sebagai bentuk kewaspadaan agar tidak ditarik melewati batas oleh tentara Korut.

Ketegangan dalam perbatasan sepanjang 257 km ini sedang dalam puncaknya, apalagi setelah beberapa uji coba rudal digelar oleh Pyongyang.

Beberapa bulan terakhir, Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengunjungi Zona Demiliterisasi Korea, memelototi tentara Korut sambil berlindung di belakang tumpukan tentara AS dan Korsel.

Zona Demiliterisasi Korea kini dipenuhi oleh pagar dan pembatas, ranjau dan terowongan, dan tentunya tentara gugup yang siap menembak setiap saat. Di 1960an, ratusan tentara dari kedua belah pihak meninggal dalam baku tembak, tapi dalam beberapa tahun belakangan, biarpun atmosfir ketegangan tidak mereda, tidak banyak terjadi kekerasan.

Memang perseteruan kedua negara ini sangat serius, tapi kadang justru seakan menjadi lelucon. Setelah Korsel menaikkan benderanya di tiang setinggi 98 meter pada dekade 1980’an, Korut merespons balik, menaikkan bendera mereka setinggi 160 meter. Pertikaian ini kelak dikenal sebagai Perang Tiang Bendera.

FINLANDIA-RUSIA

Petugas bea cukai rusia-Finlandia berpatroli bersama di luar gerbang perlintasan darat Nujamaa. Foto oleh Alexei Danichev/Sputnik via AP

Seperti Cina, Rusia memiliki sejarah panjang dalam hal konfrontasi perbatasan, dan sedikit yang menyamai tingkatan kerawanan perselisihan seperti perbatasan seluas 1.340 km yang dibagi dengan Finlandia. Perselisihan di perbatasan ini berlangsung sejak Abad 14. Saat itu Finlandia masih menjadi bagian dari Kerajaan Swedia. Konflik terakhir terjadi selama Perang Dingin. Perbatasan tersebut diklaim oleh Uni Soviet. Tentara Merah membangun pos penjagaan sejauh 120 kilometer untuk mencegah orang kabur.

Awal tahun ini Finlandia mengumumkan peningkatan pengeluaran militer mereka, termasuk meningkatkan level prajurit mereka sebanyak 20 persen di perbatasan. Ekspansi militer Finlandia merupakan respons waspada, mengingat Rusia belakangan sukses mencaplok Semenanjung Crimea dan membangun pangkalan militer sepihak di wilayah Laut Baltik.

Ketegangan antara Finlandia-Rusia sempat memuncak pada 2015. Militer Finlandia melancarkan tembakan peringatan terhadap kapal selam yang diduga milik Rusia di perairan dekat Ibu Kota Helsinki. Pada saat itu, Rusia telah mengadakan pelatihan militer di darat dan udara dekat perbatasan Finlandia.

Perbatasan sepanjang 1.340 kilometer ini membentang pada hutan-hutan tak berpenghuni dan area pedalaman dengan penghuni jarang.

Kedua sisi perbatasan tersebut dilindungi oleh zona perbatasan dengan kedalaman antara 965 meter dan 7 kilometer, yang membutuhkan izin untuk masuk. Empat wisatawan Inggris Raya menerima dakwaan kriminal yang digelar Juni lalu, karena mampir 15 menit ke Rusia untuk menegak beberapa bir.

Rusia selalu terkait pada beberapa perselisihan perbatasan yang sengit, yang paling dikenal adalah pencaplokannya terhadap Crimea dari Ukraina pada 2014. Sebelumnya, Rusia menguasai Abkhazia dan South Ossetia dari Georgia setelah perang lima hari pada 2008.

ISRAEL-JALUR GAZA (PALESTINA)

Pemuda Palestina membawa bendera sesudah bentrok dengan prajurit Israel dipicu pemotongan pasokan listrik ke Jalur Gaza. Bentrok terjdi di Khan Younis, perbatasan sisi selatan Jalur Gaza, 20 Juni 2017. Foto oleh Ibraheem Abu Mustafa/ Reuters.

Garis yang membatasi Israel dari Gaza adalah salah satu wilayah paling brutal dan paling diawasi pada planet ini. Pengawasan militer Zionis bahkan meluas ke bawah tanah, seiring dengan upaya Israel menutup jalur lorong bawah tanah yang dipakai penyelundup Palestina.

Mei lalu, Kementrian Pertahanan Israel menggelar tender pembangunan penghalang beton sepanjang perbatasan Gaza dan untuk mencegah Hamas, grup Islamis militan yang bertindak sebagai pemerintah Gaza, membangun terowongan melintasi wilayah Israel. Negeri Bintang Daud mempunyai aparat militer perbatasan paling sigap, dengan keberadaan pengamanan di atas darat dan sistem pertahanan Iron Dome di udara.

LAUT CINA SELATAN

Foto oleh Reuters

Salah satu lokasi yang paling rawan konflik dan yang merupakan perbatasan ruwet, yang tidak ada bandingannya di daratan. Perebutan kekuasaan terhadap Laut Cina Selatan telah berlangsung puluhan tahun, melibatkan peningkatan anggaran militer negara-negara yang terlibat, pelatihan militer, serta manuver diplomasi yang memperpanas ketegangan.

Cina menjadi agresor utama di perairan ini beberapa tahun terakhir. Beijing mengklaim sepihak bahwa 80 persen Laut China Selatan merupakan teritori mereka. Dalam rangka memperjelas klaim teritori itu, Beijing menjalankan program pembangunan pulau reklamasi, mengeruk sedimen bawah laut, membangun pulau-pulau kecil buatan. Semua pulau hasil urukan pasir laut itu mampu menampung instalasi militer dan bandara.

Program pembangunan pulau ala Cina itu meluas hingga masuk ke wilayah Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

Klaim sepihak Cina digagalkan Arbitrase Internasional di Den Haag, yang putusannya pada 2016 memihak Filipina. Arbitrase memutuskan jalur “sembilan garis” yang dipakai peta versi Beijing tidak sah. Cina menolak dan mengabaikan putusan internasional tersebut.

Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei turut mengklaim teritori masing-masing dari lautan kaya gas dan sumber daya alam tersebut. Sengketa yang sedang berlangsung di Laut Cina Selatan menjadi sorotan utama masyarakat internasional, mengingat ada arus $3.4 triliun barang diangkut kapal sipil melewati perairan tersebut tiap tahunnya. Di samping itu, ada pula kemungkinan ada cadangan minyak dan gas di bawah permukaan air Laut Cina Selatan merupakan yang terbesar sejagat. (ARS)