Ketua Komisi V DPR RI fary Djemi Francis, foto dengan latar belakang Jembatan Mostar.

Bintangtimur.news – Sarajevo – Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis bersama rombongan melakukan kunjungan kerja di Sarajevo, Bosnia.

Dalam kunjungan tersebut, ada satu hikmah yang yang sangat berkesan buat seorang Fary, yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira) Pusat. Hikmah itu berkaitan dengan toleransi.

Diambil dari laman facebooknya, Fary menulis tentang hikmat tersebut.

Perang yang terjadi di wilayah Bosnia dan Herzegovina pada awal tahun 1990-an, meninggalkan banyak kesedihan dan kerusakan. Banyak warga yang kehilangan keluarga, sahabat, tempat tinggal, dan banyak kota yang mengalami perpecahan.

Salah satu kota yang juga mengalami kerusakan pada Perang ini adalah Mostar, kota terbesar di wilayah Herzegovina yang didiami oleh 109.000 warga. Kota Mostar memiliki cerita mengenai jembatan tua “Stari Most”, merupakan simbol Bosnia sebelum, selama, dan sesudah konflik yang terjadi pada awal tahun 1990.

Jembatan Stari Most merupakan peninggalan Kekaisaran Ottoman Turki yang dibangun pada tahun 1556 atas perintah Sultan Sulaiman, melambangkan hubungan antara budaya dan agama yang berbeda. Jembatan ini melintasi Sungai Neretva, menghubungkan bagian barat kota yang banyak didiami oleh etnis Kroasia beragama Katolik dengan timur kota yang merupakan tempat tinggal bagi etnis Bosnia yang kebanyakan Muslim.

Pada tanggal 9 November 1993, Jembatan Mostar mengalami nasib yang malang ketika kawasan Bosnia-Herzegovina dilanda perang antar etnis pada tahun 1992 – 1995. Kala itu jembatan tersebut dihancurkan hingga roboh terjatuh ke Sungai di bawahnya, yang merupakan simbol multikulturalisme yang masih bertahan di kawasan itu.

Masyarakat internasional, menaruh perhatian atas penghancuran jembatan historis tersebut dan mendorong pembangunan jembatan baru. Sebanyak mungkin batu kapur putih dari reruntuhan jembatan tua diselamatkan dari dasar sungai. Batu-batu baru juga digali dari tambang terdekat dengan tujuan untuk membuat jembatan yang semirip mungkin dengan jembatan yang telah hancur. Akhirnya pada 23 Juli 2004, jembatan Mostar baru terbangun di tempat jembatan Mostar lama. Di jembatan tersebut terdapat batu untuk mengenang peristiwa kehancuran jembatan tersebut akibat perang antar etnis pada tahun 1993, bertuliskan “Don’t Forget ‘93”.

Pembangunan kembali jembatan ini pada tahun 2004 melambangkan penyatuan kembali kota Mostar dan menjadi bagian dari proses pemulihan kota multi etnis ini pasca perang panjang. Sampai saat ini jembatan Mostar masih menjadi landmark yang paling ikonik dari Bosnia-Herzegovina. Pada tahun 2005, karena keindahan dan sejarahnya sebagai pemersatu budaya dan etnis yang ada, Jembatan Stari Most dijadikan situs warisan Dunia Abad ke-20 oleh UNESCO

Kemarin saya menyempatkan diri melihat jembatan ikonik Bosnia ini. Jembatan ini menjadi sangat terkenal sebagai simbol toleransi dan perdamaian. Perbedaan etnis dan agama di Bosnia Herzegovina direkatkan dan disatukan oleh jembatan ini. Perbedaan ini bukan alasan bagi setiap etnis untuk menutup diri. Jembatan Mostar mempersatukan perbedaan, membuka jalan persaudaraan dan menegaskan keberagaman sebagai kekayaan bukan pemicu konflik. Perang etnis yang cukup panjang telah melahirkan kesadaran bahwa perbedaan tidak perlu dipersoalkan dan dijadikan sumber konflik.

Jembatan Mostar mengingatkan tentang hal itu. Kita mesti menjadi jembatan-jembatan toleransi dan perdamaian dalam kehidupan ini. Kisah Mostar adalah kisah kita juga.

Selamat Hari Minggu. GBU # (Fary, Sarajevo Bosnia 25/11)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here