Bintangtimur.id-Kupang—-Jurnalis yang baik adalah yang selalu mewartakan pemberitaan sesuai dengan etika dan kaidah jurnalistik. Jurnalis jangan jadi penyebab konflik tetapi harus menjadi pembawa damai.

Demikan rangkuman pemikiran dalam workshop Jurnalis Damai yang digelar CIS Timor dan Kompak, di Hotel Bela Vita, Rabu (23/3). Kegiatan ini diikuti para wartawan dan pemilik media di Kota Kupang dan sekitarnya. Hadir sebagai instruktur, jurnalis senior NTT  Ana Djukana.

Dalam paparan materinya, Ana mengatakan, pemberitaan yang disampaikan para wartawan atau jurnalis harus menyampaikan fakta, narasumber yang digunakan harus berkompeten, dan yang paling penting pemberitaan harus berimbang.

“Dalam jurnalisme damai, memiliki gaya peliputannya sendiri, seperti, menggunakan diksi atau pemilihan kata yang adil, seimbang, jujur, bertanggung jawab. Caranya adalah dengarkan dan perhatikan, dan waspadai agenda tersembunyi dan prasangka-prasangka,” tegas Ana.

Menurut aktivis perempuan NTT ini, hal lain yang menjadi prinsip ketika meliput adalah jangan membuat kerusakan, gambarkan secara luas dengan menghindari menyalahkan orang lain, harus berhati-hati dengan bahasa bermuatan negatif, fokuskan pada persamaan dan pertanyakan setiap stereotype, dan terbuka pada kemungkinan yang kreatif yang dapat membawa ke solusi yang sehat.

“Kalau semua wartawan selalu menggunakan prinsip dan pedoman dalam liputan sesuai kaidah jurnalistik, tentu saja apa yang disampaikan bukan menjadi sumber konflik lagi, tapi sebagai kabar yang bisa membawa perdamaian. Itulah yang kita sebut Jurnalisme Damai bukan Jurnalisme konflik,” ujarnya.

Ana juga meminta kepada peserta workshop bisa memahami dan mengetahui apa yang terkandung dalam kaidah jurnalistik, etika jurnalistik, dan undang-undang tentang pers. Karena, sampai saat ini harus diakui masih banyak wartawan yang belum mengetahui isi dari undang-undang tersebut.

“Setiap wartawan harus tahu pasal demi pasal yang ada di dalam undang-undang pers. Jangan sampai kita menyatakan ini tidak sesuai dengan kaidah jurnalistik, namun rujukan undang-undangnya di pasal berapa kita tidak tahu,” ungkapnya.

Menurut Ana, ini yang harus dilakukan organisasi pers seperti PWI dan AJI, agar setiap anggotanya bisa mengetahui undang-undang pers. “Kita berharap usai workshop ini ada agenda lanjutan yang bisa digagas oleh AJI bersama CIS Timor dan Kompak, untuk menggelar kegiatan khusus berkaitan dengan undang-undang pers dan kaidah jurnalistik,” ujarnya.

Ketua AJI Kupang Alex Dimoe mengatakan, secara lembaga pihaknya sangat siap bekerjasama dengan CIS Timor dan Kompak untuk menggelar kegiatan berkaitan dengan membangun pemahaman wartawan tentang undang-undang pers dan kaidaj jurnalistik.

“Kita siap memfasilitasi kegiatan tersebut. Tujuannya, agar semua wartawan bisa mengetahui dan memahami pasal demi pasal undang-undang pers,” ujarnya.

Pantuan bintangtimur.id, workshop Jurnalisme Damai diikuti wartawan dan pemilik media. Dalam kegiatannya, para peserta dibagi dalam tiga kelompok, dan setiap kelompok membahas berkaitan dengan jurnalisme damai, jurnalisme konflik, masalah dan solusinya, serta kegiatan tindaklanjutnya. Para wartawan berkomitmen bersama menjadi jurnalis damai di NTT.

“Kita siap menjadi jurnalis damai di NTT,” ujar Asis dari LKBN Antara dan Eras Poke dari Radio Suara Timur. (aps)