Tahun ajaran baru sudah mulai. Seperti biasa, salah satu program di SMK Lapangan Nekamese adalah pertemuan umum antara para siswa, guru, pengurus yayasan bersama pendiri SMK Lapangan, Bapak Fary Francis. Semacam orientasi, ada beberapa hal yang disampaikan pendiri, diantaranya secuil sejarah SMK Lapangan dan apa yang membuatnya berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain serta penyampaian materi empat pilar kebangsaan sebagai bagian dari sosialisasi dasar ketika bergabung dengan SMK Lapangan Nekamese.

Sekolah lapangan Nekamese mulai beroperasi tahun 2011 dengan dua jurusan yakni pertanian dan peternakan. Jumlah siswa angkatan perdana sebanyak 25 orang, dan yang bertahan hingga tamat 18 orang. Sampai tahun keempat saat ini, jumlah siswa Sekolah Lapangan Nekamese sebanyak 83 orang.

Menurut sang pendiri, kurikulum pembelajaran SMK Lapangan Nekamese sekitar 60 persen adalah praktik lapangan. Sedangkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas 40 persen. Pembelajaran di lapangan seperti praktik di klinik tanaman pangan, praktik di kandang, di kebun sayur. Walaupun lebih banyak waktu dihabiskan dalam proses pembelajaran di lapangan, namun tidak berarti aspek teoritis diabaikan. Hal ini dibuktikan pada hasil ujian nasional tahun 2015 lalu. Untuk mata kuliah Bahasa Inggris, peringkat 1sampai 5 se-SMK di seluruh Kabupaten Kupang ditempati oleh para siswa SMK Lapangan Nekamese. Begitu pula untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, ada pula para siswa SMK Lapangan Nekamese yang masuk dalam kategori 5 besar itu.

SMK Lapangan Nekamese hadir dengan pendekatan yang berbeda dari sekolah-sekolah kejuruan lainnya. Ada 5 hal yang berbeda. 1) Para siswa adalah anak kampung dari keluarga tidak mampu yang putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan sekolah. Mereka direkomendasikan ke pihak sekolah oleh tokoh agama (pastor, pendeta) dan tokoh masyarakat setempat. 2) Para siswa tidak dipungut biaya (sekolah gratis). Semua biaya hidup dan sekolah ditanggung oleh Pendiri dan Yayasan. 3) Para siswa semuanya diasramakan. Ini adalah bagian untuk melatih kemandirian para siswa. 4) Setelah selesai sekolah, para siswa akan diberikan tabungan dari hasil karya berkebun dan berwirausaha, sebagai modal untuk berusaha setelah kembali ke kampung. 5) Sebelum kembali ke kampung, para lulusan akan dimagangkan di luar NTT untuk menambah wawasan, pengalaman dan keterampilan.

Berkaitan dengan empat pilar kebangsaan, anggota MPR RI dua periode ini menjelaskan bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Empat pilar dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun program kerja dan dalam melaksanakan kegiatannya. Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun hal ini telah menjadi kesepakatan bersama, atau tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia, masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan,  sekedar suatu ungkapan indah, yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik. Yang diperlukan adalah landasan riil dan konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi.

Kepada para siswa diminta untuk memahami makna empat pilar tersebut, sehingga dapat memberikan penilaian secara tepat, arif dan bijaksana terhadap empat pilar dimaksud, dan dapat menempatkan secara akurat dan proporsional dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berikut disampaikan secara singkat tentang keempat pilar tersebut. (FB)