Bintangtimur.id—Kupang—Tokoh gereja diminta selalu terlibat aktif dalam aktivitas pembangunan di desa. “Kalau gereja tidak terlibat dalam pembangunan desa, maka gereja akan kehilangan moment dalam bertindak cerdas dalam proses pembangunan desa,” ujar Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  Drs. Johozua M. Yoltowu, MSi,MA, dalam paparan materinya saat kegiatan Pendeta GMIT Suka Tani, di Sekolah Lapangan Nekamese, Jumat (28/4).

Johozua mengatakan, tokoh gereja dari GMIT harus hadir dalam kegiatan musyawawah desa, sehingga bisa menentukan dan melahirkan gagasan yang brilian dalam penentuan rencana program pembangunan di desa.

“Musyawarah desa merupakan penentu pelaksanaan program kegiatan di desa. Karena itu, sangat penting dan strategis apabila tokoh gereja sejak musyawarah desa sudah memberikan masukan yang strategis dalam penentuan program pembangunan desa,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini pelaksanaan pembangunan berbasis desa. Presiden Jokowi melalui Kementerian Desa sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 1 miliar yang akan dibagikan untuk setiap desa di seluruh Indonesia.

“Baru era Presiden Jokowi ini alokasi dana sebesar ini langsung diserahkan pengelolaannya di desa. Apabila desa tidak mendesign program pembangunannya dengan bagus, maka yang rugi desa tersebut. Untuk itu, peran serta pihak gereja sangat penting dalam menyukseskan program pembangunan di desa,” ungkapnya.

Ketua Komunitas Pendeta GMIT Suka Tani Jefry Watileo mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk kemajuan masyarakat desa yang difasilitasi gereja.

Menurutnya, selama ini para pendeta berada di dalam gereja, saat ini sudah saatnya berada di luar gereja bersama masyarakat, sehingga bisa mengetahui dan memahami kondisi dan kebutuhan riil masyarakat.

“Produk dari kegiatan ini, para pendeta bisa menjadi motivator di setiap daerah pelayanannya, sehingga bisa membantu petani berkaitan dengan teknik pertanian modern dan profesional,” ujarnya.

Pendeta Jefry menyatakan, kegiatan ini baru tahap pertama, dan sudah 50 pendeta yang tergabung di komunitas ini.

“Saya meyakini jumlah pendeta yang memiliki visi pertanian akan bertambah. Dengan semakin banyaknya pendeta yang bergabung, saya optimis bisa mempengaruhi pola pertanian para jemaat dan warga desa,” ujarnya.

Pendiri Sekolah Lapangan Nekamese Fary Francis mengatakan, peran gereja sangat penting dalam pembangunan kemasyarakatan khususnya di daerah pedesaan. Karena itu, Sekolah Lapangan Nekamese bekerjasama dengan GMIT dan Kementerian Desa menggelar kegiatan Pendeta Suka Tani.

Harapannya, pasca kegiatan ini, para pendeta bisa membantu petani di daerah pelayanannya masing-masing, dengan pelaksanaan kegiatam pertanian yang bernilai ekonomis tinggi.

“Saya yakin, setelah kegiatan ini warga desa yang pendetanya mengikuti kegiatan ini bakal mendapatkan ilmu pertanian yang baru dan bagus, sehingga bisa mempengaruhi ekonomi keluarga,” ujarnya.

Fary menambahkan, Sekolah Lapangan Nekamese akan terus bersinergi dengan GMIT dan Kementerian Desa dalam membantu mempercepat proses pembangunan di daerah pedesaan. (aps).