foto : tribunnews

Bintangtimur.news – Kupang – Juru bicara keluarga Adelina, Ambrosius Ku, meminta majikan yang menganiaya Adelina dihukum berat oleh pihak otoritas di Malaysia. Dia juga meminta polisi di Indonesia agar segera menangkap calo yang merekrut Adelina untuk bekerja di Malaysia.

“Atas nama keluarga, kami meminta pihak kepolisian untuk segera menuntaskan kasus ini dengan menangkap calo yang pertama kali merekrut Adelina sehingga bekerja di Malaysia,” ujar Ambrosius, kepada wartawan, saat menjemput jenazah Adelina, di Cargo Bandara El Tari Kupang, Sabtu (17/2).

Ambrosius mengatakan, yang menjemput jenazah Adelina hanya beberapa keluarga saja. Sementara kedua orangtua Adelina dan keluarga lainnya, saat ini berada di rumah duka untuk menunggu kedatangan buah hati mereka.

“Kami semua keluarga sedih karena Adelina pulang ke kampung halamannya dalam keadaan seperti ini,” tuturnya.

Sementara salah seorang anggota keluarga TKI Adelina, Petronela Koa, langsung histeris saat melihat peti jenazah diangkut dari dalam Cargo.

” Adelina…”, teriakan itu keluar dari mulut Petronela Koa, begitu melihat peti jenazah Adelina Sau yang diangkut dari ruang kargo Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju mobil jenazah.

Air mata pun mengucur deras membasahi seluruh wajah Petronela, saat mendekati peti jenazah keponakannya.

Selendang yang dikalungkan di lehernya, dipakai untuk menyeka air mata yang terus menete dari kedua bola mata perempuan berambut ikal itu.

Tangisan Petronela sempat terhenti ketika petugas dari Kementerian Luar Negeri dan BP3 TKI Kupang, menyerahkan jenazah Adelina kepada pihak keluarga untuk dibawa pulang ke kampung halamannya.

Peti yang berisi jenazah Adelina kemudian dimasukan ke dalam mobil jenazah milik BPTKI. Petronela pun dengan cekatan, lalu masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di kursi bagi kiri, persis di samping peti jenazah.

Tangis Petronela pun terus berlanjut saat berada di dalam mobil, hingga pintu mobil ditutup. Bersama jenazah Adelina, Petronela yang tak mau bicara, kemudian bersama kerabatnya bergerak menuju rumah duka di Kecamatan Oenino, yang berjarak sekitar 150 kilometer arah Timur Kota Kupang. (AM7/kompas.com)