Bintangtimur.news, Jakarta– Pemilu 2019 masih sekitar 2 tahun lagi. Tapi banyak pegiat politik nasional yang sudah mulai melakukan kalkulasi. Baru- baru ini Survei Centre For Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebesar 27,8 persen pada 2017. Prabowo digadang masih akan jadi penantang terkuat Joko widodo.

Dari rilis survei CSIS, elektabilitas Prabowo hanya kalah dari Joko Widodo sebesar 50,4 persen.Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengapresiasi atas hasil survei yang dirilis oleh CSIS tersebut.

Dirinya melihat secara optimis rilis survei tersebut dan justru bersyukur.
“Saya kira kalau survei itu betul luar biasa. Padahal Pak Prabowo sampai ‎sekarang belum lakukan gerakan sebagai Capres,” kata Muzani di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Gambaran hasil survei CSIS terhadap elektabilitas Prabowo menurut Muzani adalah sesuatu yang luar biasa. Mengingat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga mantan Danjen Kopassus itu belum sama sekali mendeklarasikan diri menjadi calon presiden di 2019 mendatang. Bahkan menyampaikan niat untuk kembali maju bertarung sebagai Capres pun belum.

“Bahkan beliau sendiri belum menyatakan hal-hal kecapresan beliau. Tapi kalau hasil itu betul akan jadi modal baik,” katanya.

Ditempat terpisah, secara kebijakan pemerintahan, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fadli Zon, berbeda pendapat dengan hasil survei yang dikeluarkan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terhadap tingkat kepuasan masyarakat dalam kinerja pemerintahan Jokowi-JK.

“Kalau yang saya temukan di lapangan tidak seperti itu ya. Masyarakat sampaikan kehidupan ekonomi sulit, terutama dianggap harga-harga semakin naik, semakin sulit terjangkau, daya beli lemah,” jelasnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (13/9).

Lesunya sektor ekonomi, lanjut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini dapat dibuktikan dengan menurunnya daya beli masyarakat, tidak berkembangnya sektor properti hingga ke retail. (ARS)