Bintangtimur.id — Jakarta. Tampilnya Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi Sebagai Ketua Umum (ketum) PSSI periode 2016 – 2020 melahirkan banyak dukungan positif, termasuk dari kalangan wakil rakyat di Senayan. Tak ayal, secara khusus Komisi X DPR RI mengundang PSSI untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di ruang rapat Komisi X Rabu, (26/4/17) siang tadi.

Hadir pada kesempatan itu, Ketum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi bersama sejumlah executive commitee (exco) diantaranya Peter Tanuri (Manajer Bali United). Turut hadir Ketua Bidang Sport Intelligence PSSI, Fary Francis yang juga Ketua Komisi V DPR RI. Sedangkan di pihak Komisi X hadir belasan anggota. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi X dari Fraksi Gerindra, Sultan Syah Adil.

Sebelum memberikan kesempatan kepada Ketum PSSI untuk menyampaikan presentasinya, pimpinan rapat, Sultan Syah Adil menyampaikan bahwa momentum pertemuan ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Komisi X untuk mendengarkan secara langsung Pemaparan Ketum PSSI dan seabrek program kerjanya dalam memajukan sepakbola Indonesia. Pada prinsipnya, menurut politisi Gerindra ini, Komisi X mendukung sepenuhnya berbagai program PSSI dalam memajukan sepakbola Tanah Air.

Ketum PSSI, Edy Rahmayadi memaparkan situasi terkini sepakbola Indonesia. Menurutnya, saat ini Indonesia menempati peringkat FIFA 175 dari 206 negara. Jumlah pemain yang terdata di FIFA 67.000 (0,026%) dari 250 juta penduduk. Jauh lebih rendah dari negara-negara Asia lainnya. Wasit berlisensi FIFA hanya ada 5 orang. Sementara pelatih yang berlisensj AFC/UEFA hanya berjumlah 197. Sedangkan Malaysia pelatihnya berjumlah 1.810. Sementara itu, jumlah stadion yang berstandar FIFA 2 stadion dan 23 stadion/lapangan layak pakai. Persoalan krusial lainnya adalah hingga saat ini PSSI belum memiliki kantor sendiri.

Terkait agenda Timnas 2017 – 2020, Ketum PSSI yang juga merangkap Pangkostrad TNI ini, menjelaskan ada beberapa agenda ke depan yakni Timnas U22: SEAGames 2017, Asian Games 2018. U18: piala AFF, AFC. U19 piala AFC 2019 (Indonesia tuan rumah). U16 piala AFF, AFC. U14 piala AFF, AFC. Wanita AFF, AFC. Futsal piala AFC, AFC. Target yang mau dicapai: juara 1 SEA Games Kuala Lumpur 2017 dan semifinal ASEAN Games 2018.

Mengenai program kerja PSSI, Edy menjelaskan ada program jangka panjang melalui sepakbola usia dini yang berkelanjutan. Untuk jangka menengah, ada kompetisi U15, U17 yang dimulai tahun 2017. Lantas, program jangka pendek bakal di gelar kompetisi liga 1, liga 2, liga 3 dan liga 4. PSSI, menurutnya memiliki program sinergi dengan pemerintah melalui pengembangan sepak bola (peningkatan jumlah pemain, peningkatan jumlah pelatih), peningkatan infrastruktur sepak bola, manajemen dan liga profesional. “Target sampai 2020 kita memiliki 2 juta pemain, 1000 pelatih, 2017 bangun kantor PSSI dan 200 lapangan high class, 2018 membangun 500 kantor AsProv, tahun 2019 ada 700 diklat usia 6-12 tahun. Soal industri-liga profesional targetnya terbaik di ASEAN, TOP-Class di Asia tahun 2020.”

Paparan ini mendapat dukungan dari anggota Komisi X, diantaranya Junico Siahaan Fraksi PDIP yang mendukung agar pengembangan sepakbola tanah air mesti masuk hingga ke dalam konteks budaya olahraga sepakbola. Disisi lain, Popong Otje Djundjunan dari Fraksi Golkar, misalnya. Pun ikut mengapresiasi keberanian Ketum PSSI dan jajarannya yang menerima tanggung jawab di kala kondisi riil PSSI yang sangat memprihatinkan.

Sementara itu, Ketua Bidang Sport Intelligence PSSI, Fary Francis memberikan apresiasi atas dukungan rekan-rekannya di Komisi X terhadap pengembangan sepakbola di Tanah Air. “Saya kira ini awal yang bagus. Ketum PSSI sudah memaparkan berbagai kondisi riil sepakbola dan berbagai program serta target yang hendak dicapai. Komunikasi yang baik ini mesti terus dipertahankan sehingga hasil yang dicapai bisa maksimal.”

Menyoal program, Ketua Komisi V ini juga menilai pengembangan sepakbola usia dini adalah prioritas saat ini. Kendati tujuannya jangka panjang, tetapi aksinya mesti mulai saat ini. Karena itu, kehadiran sekolah sepakbola di daerah-daerah perlu mendapat dukungan dan perhatian,” kata pendiri SSB Bintang Timur Atambua ini.** (iso).