Pertemuan delegasi Indonesia-Korsel (foto/antara)

Bintangtimur.news – Jakarta – Setelah kunjungan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia, para investor dari ‘Negeri Ginseng’ berminat menanamkan modal di sejumlah proyek infrastruktur. Bahkan, beberapa di antara mereka telah meneken kontrak.

Kemarin, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono bertemu dengan Menteri Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korsel Kim Hyun-mee di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera).

Delegasi Korsel membawa sejumlah pelaku usaha.

Menurut Basuki, mereka tertarik menanamkan mo-dal di lima sektor pembangunan, yakni bendungan beserta penyalur-an air bakunya, perumahan, jalan tol, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan light rapid transit (LRT).

Untuk yang saat ini sedang berlangsung pembangunannya ialah proyek Bendungan Karian di Banten, yang nantinya akan menyuplai air baku ke Tangerang Selatan, Tangerang, dan DKI Jakarta.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Iman Santoso mengungkapkan loan untuk water supply sedang dalam pembicaraan dan tahun depan sudah mulai pengerjaan.

“Ini kejar-kejaran. Ketika ben-dungannya selesai, salurannya juga harus selesai. Jadi itu namanya water treatment process (WTP) dari Karian ada 7,9 kilometer. Juga ada WTP baru yang akan dialihkan ke Jakarta dengan skema public private partnership (PPP),” ujarnya.

Untuk pembangunan saluran air baku ini, kata Imam, pihak Korsel memberikan pinjaman sebesar Rp2,1 triliun.

“Untuk skema PPP beda lagi. Itu untuk distribusi air baku. Mereka bangga dengan Karian karena dana dari mereka. Dana dari Korsel semua, sekarang sudah 48%. Selesai 2019,” jelas Imam.

Selain proyek bendungan yang sudah berjalan, kata dia, pihak Korsel juga menawarkan peningkatan elektronifikasi jalan tol dengan sistem transportasi cerdas (intelligence transportasi system/ITS).

“E-toll ini kan targetmya sampai ke free flow itu. Kita juga ada tawaran dari Hongaria, kita coba dengan ini (Korea) mana yang lebih murah dan bagus,” ujar Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono.

Studi kelayakan

Namun, lanjut Basuki, untuk sistem transportasi cerdas ini belum masuk pada nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian dengan Korsel.

“ITS itu expert-nya mau datang, tidak implementasi langsung dibuat, mau dibikin studi kelayakan dulu sehingga kelihatan nanti cost-nya,” kata Basuki.

Korsel, kata Basuki, juga berminat menanamkan investasi di proyek penyediaan dan pembiayaan perumahan terjangkau untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), LRT Jakarta, dan PLTA, tepatnya PLTA yang ada di Sulawesi Tengah.

“Berdasarkan hasil perjanjian yang telah ditandatangani kemarin, kami juga berminat untuk investasi di proyek LRT dan Bongka Hydro Power yang merupakan proyek kerja sama yang penting bagi kami,” kata Menteri Kim Hyun-mee.

Dia mengungkapkan, untuk sektor perumahan, pengembang asal Korsel Hanwha ENC dengan PT PP (persero) Tbk telah menandatangani kerja sama untuk proyek konstruksi.

“Nantinya ini akan menjadi model dan mengurangi backlog (selisih pasokan dan permintaan rumah) untuk MBR,” tutupnya. (AM7/MI/E-2)