Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menuding tiga industri yang menjadi calon pembeli gas di Blok Masela, Maluku Utara sebagai calo gas. (Foto-dok: Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, JakartaDisela-sela menggeliatnya harga minyak dan gas bumi dunia mulai menunjukan daya pikatnya. Namun, ada saja pihak yang berupaya ambil untung dengan berbagai macam dalih tentunya. Jadi, wajar saja jika Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meradang dan menolak mentah-mentah tiga pelaku industri yang ingin membeli gas di blok migas Masela, Maluku dengan harga miring. Betapa tidak, tiga industri yang diajukan Kementerian Perindustrian ini menawar harga gas di lapangan Abadi tersebut dengan harga USD3 per MMBTU. Pertanyaannya, siapa mereka yang dimaksudkan oleh pihak SKK Migas?

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi menuding tiga industri yang menjadi calon pembeli gas di Blok Masela, Maluku Utara sebagai calo gas. Pasalnya, mereka menawar harga gas dengan sangat miring, sekitar USD3 per MMBTU.

Amin Sunaryadi menilai, para calon pembeli tersebut tidak berniat untuk bekerja dan hanya berniat mencari untung. Jadi, dia tidak akan melepas gas di Masela untuk tiga industri tersebut.

“Kalau harga gas yang ditaruh USD3 per MMBTU, SKK Migas akan cari pembeli yang lain. USD3 per MMBTU ini kan businessman yang enggak mau kerja, maunya cari untung, kemungkinan besar jadi calo. Kalau dia beli USD3 nanti akan di calo-in ke perusahaan manufacturing yang mau beli ke dia USD4,” katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Menurutnya, tiga industri yang diajukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tersebut adalah industri yang hanya omong kosong. Apalagi, harga indikator (indicator price) menunjukkan harga di atas USD3 per MMBTU.

Misalnya, di Teluk Bintuni harga gas yang ditawarkan sekitar USD5,2 per MMBTU, begitupun di China yang harga gasnya sekitar USD6,2 per MMBTU.

“Itu kan kelompok yang omong kosong (tiga industri yang diajukan Kemenperin untuk membeli gas di Masela). Artinya, kalau beli USD3, ini supir taxi yang lewat-lewat ini suruh bisnis model begitu juga bisa. Enggak perlu modal enggak perlu kepinteran,” tuturnya.

Amien juga tidak tertarik memperdalam penawaran dari tiga industri tersebut lantaran mereka bukanlah perusahaan besar kelas dunia. Jadi, dia menganggap bahwa mereka bukanlah potential buyer untuk Blok Masela.

“Lihatnya gini, tahu daftar perusahaan fortune? Nah, yang nawar USD3 per MMBTU masuk dalam urutan berapa? Enggak ada dalam urutan itu, artinya perusahan-perusahan ini enggak dikenal di dunia. Jadi, kalau mau bisnis beneran perusahaan dilihat urutan keberapa. Kalau urutan bagus mari kita diskusiin. Kalau di Indonesia enggak diterima kok buat apa kita bisnis dengan mereka,” terang Amin.

Sekadar informasi, tiga industri yang menawar harga gas di Masela adalah PT Pupuk Indonesia, Elsoro Multi Prima, dan Kaltim Metanol Industri. (RF)