Keselamatan penumpang jangan sampai disepelekan, itu soal nyawa. (Foto-dok: Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Skytrain Bandara Soekarno-Hatta yang belum genap berusia empat bulan diresmikan pada (17/9/2017) lalu, tiba-tiba mogok pada Minggu pagi (7/1/2018), kemarin.

Kejadian bermula, saat kereta layang itu tengah melaju ke shelter Terminal 1, lalu terhenti mendadak sebelum tiba di shelter yang dituju. Sontak saja, kejadian itu mendadak membuat panik dan para penumpang yang sedang berada di dalam pun berhamburan keluar tampak terkejut.

Setidaknya, hal tersebut diungkapkan langsung oleh Branch Communication Manager Bandara Soetta Chaerul Anwar. Dia menyatakan, pihaknya sudah mengevakuasi para penumpang yang terangkut Skytrain tersebut.

“Informasi di lapangan seperti itu, sehingga pengguna jasa bandara dievakuasi dengan shuttle bus,” ujar Chaerul kepada media.

Kendati begitu, Chaerul mengklaim insiden tersebut tidak mengganggu operasional pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menjelaskan, telah terjadi gangguan pada satu trainset Skytrain itu. Ada masalah di sistem kabel dalam moda transportasi anyar di Bandara Soetta ini.

“Tim sudah di lapangan, sedang melakukan investigasi untuk kelancaran operasional kereta layang ini,” ucap Chaerul.

Menyoal peristiwa itu, secara otomatis mendapat sorotan dari Komisi V DPR-RI juga perhatian publik. Mohammad Nizar Zahro, misalnya, Anggota Komisi V DPR RI itu memberikan tanggapan serius atas insiden tersebut. Dirinya pun meminta kepada pihak Angkasa Pura dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk serius dalam menyediakan moda transportasi.

“Keselamatan penumpang jangan sampai disepelekan, itu soal nyawa. Jadi, jangan main-main,” ungkap Politisi asal Gerindra.

Oleh sebab itu, wajar, bila Nizar berharap betul moda transportasi Skytrain tersebut harus benar-benar sesuai dengan standard transportasi massal. Terkait hal itu, ia meminta agar hasil uji coba yang pernah dilakukan meski dilaporkan ke Komisi V DPR RI.

“Tentu harus sesuai dengan standard transportasi massal sehingga keselamatan penumpang tetap terjamin,” ungkapnya.

Lantas, Ia juga menegaskan, bahwa keberadaan Skytrain memang bisa menjadi solusi agar lebih cepat. Namun, menurutnya, kalau kemudian ada insiden mogok, sehingga para penumpangnya harus dievakuasi, maka itu bukan menjadi solusi.

“Justru itu akan menimbulkan masalah baru,” pungkas Nizar. (RF)