Aktivitas di salah satu Pasar Beras. (foto : tempo)

Bintangtimur.news – Jakarta – Masih tingginya harga beras di Tanah Air saat ini tidak terlepas dari rantai distribusi yang masih panjang.

Menurut Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi komoditas pangan utama ini setidaknya melalui empat sampai enam titik distribusi sebelum sampai ke tangan konsumen.

Pertama, petani akan menjual gabah yang sudah dipanen kepada tengkulak atau pemotong padi. Di tangan mereka, gabah dikeringkan dan dijual kepada penggilingan. Setelah digiling menjadi beras, beras dijual ke pedagang grosir berskala besar yang memiliki gudang penyimpanan.

Tidak berhenti di situ, pedagang grosir skala besar itu akan menjual beras tersebut kepada pedagang grosir berskala kecil di tingkat provinsi, seperti Pasar Induk Beras Cipinang atau kepada pedagang grosir antar pulau. Pihak terakhir inilah yang akan menjual beras kepada para pedagang eceran.

“Dalam setiap rantai distribusi, margin laba terbesar dinikmati oleh para tengkulak, pemilik penggilingan padi atau pedagang grosir. Di Pulau Jawa, margin laba ini berkisar antara 60%-80% per kilogram (kg).

Sebaliknya, para pedagang eceran justru hanya menikmati margin laba dengan kisaran antara 1,8%-1,9% per kg,” terang Hizkia melalui keterangan resmi, Kamis (18/1).

Situasi tersebut menunjukkan pihak-pihak yang menikmati laba besar dalam rantai distribusi terjadi saat beras belum sampai di pasar eceran. Hal itu, ucapnya, membuktikan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak efektif.

“Kebijakan tersebut memaksa para pedagang eceran untuk menurunkan harga jual beras, padahal mereka bukanlah pihak yang menyebabkan tingginya harga komoditas,” paparnya.

Petani, lanjut Hizkia, juga merupakan pihak yang dirugikan karena rantai distribusi yang tidak efektif. Sebanyak 56% petani di Indonesia adalah petani kecil dan mereka sering dilupakan sebagai pihak yang merugi.

Situasi tersebut berbeda dengan beras impor yang memiliki jalur distribusi tidak sepanjang beras lokal. Saat beras lokal harus melewati empat sampai enam pelaku distribusi sebelum sampai di tangan konsumen, beras impor hanya perlu melewati tiga pelaku distribusi saja.

Dari importir, beras dijual ke agen atau pedagang grosir atau supermarket. Dari sana, beras kemudian dijual ke sub agen dan kemudian ke pedagang eceran.

Beras bisa juga dijual langsung dari pedagag grosir ke pedagang eceran. Konsumen bisa langsung membeli beras dari pedagang eceran maupun dari supermarket.

“Sistem distribusi yang lebih singkat ini mungkin untuk dilaksanakan karena beras impor adalah produk yang telah siap dimasak dan sudah diproses. Jadi beras ini tidak membutuhkan peran pemotong padi, tengkulak maupun tempat penggilingan padi,” jelasnya.(mediaiindonesia/AM7)