Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon dan Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia Fary Djemy Francis bersama para petani tembakau di Nusa Tenggara Timur. (Foto-dok: Arief Nazarudin)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Agar sektor pertanian Indonesia dapat tumbuh dengan pesat, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon pun mengajak berbagai pihak yang terkait, terlebih kalangan generasi muda supaya tertarik menjadi petani.

“Sekarang ini, semakin sedikit pemuda kita yang tertarik pada dunia pertanian,” kata Fadli dalam rilis kepada media di Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Menurut Fadli, minimnya ketertarikan generasi muda terhadap bidang pertanian dapat berpotensi mengancam ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

Mantan wartawan Harian Terbit itu pun mengingatkan, saat ini kalangan petani cenderung menjadi lebih tua dengan rata-rata usia mereka mencapai sekitar 50 tahun. Diharapkan pemerintah juga bisa memberikan kemudahan hingga pendidikan atau pelatihan bagi generasi muda yang tertarik masuk ke pertanian.

“Perlu ada penyuluhan supaya ada ketertarikan pada para pemuda, dan ada kampanye untuk bertani pada para pemuda,” paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian ‘merayu’ generasi muda agar semakin banyak yang mau menjadi petani di berbagai daerah sebagai upaya mewujudkan visi pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Fakta terjadi di semua belahan dunia. Jumlah petani muda menurun, dan yang tersisa petani yang sudah berusia tua,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, dalam Seminar Hari Pangan Sedunia ke-37 di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017) silam.

Agung menuturkan, penurunan jumlah pemuda petani tersebut adalah karena banyak generasi muda yang bermigrasi dari desa karena tidak tertarik bekerja di lahan pertanian, sehingga beralih ke sektor lain.

Pun Agung berpendapat, bahwa yang membuat menarik bagi anak muda pada saat ini adalah yang memiliki nilai tambah serta memiliki sentuhan teknologi yang selaras dengan perkembangan era global saat ini.

“Kami akan coba pertanian kita mempunyai margin keuntungan yang tidak kalah kalau kita bekerja di luar pertanian. Jawabannya adalah teknologi, karena banyak anak muda yang tertarik mengembangkan aplikasi,” kata Agung.

Agung menuturkan, aspek teknologi itulah yang akan meningkatkan margin keuntungan tersebut. Karena dengan teknologi, bakal dapat memproduksi hasil maksimal dengan tenaga yang relatif kecil.

Selain itu, ujar dia, berbagai pihak juga harus mampu menjamin harga jual dari produksi pertanian dalam negeri dengan memiliki tingkat harga jual tinggi agar banyak generasi muda yang tertarik. Yuk, kita jadi petani! (RF)