"Apa yang bisa kita andalkan gandum tidak bisa produksi, tidak banyak yang bisa kita harapkan, ngeri saya defisit pangan ini terjadi terus menerus, dan bukan terjadi pada era Jokowi, dan sudah berlangsung era SBY tahun 2008," kata Faisal Basri. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Siapa yang tak kenal Faisal Basri? Ekonom senior asal Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) belum lama ini mengaku, setuju betul dengan apa yang dilakukan oleh Menteri Susi Pudjiastuti yang getol memberangus kejahatan pencurian ikan atau illegal fishing di perairan Nusantara. Hal itu disampaikannya, kala menjadi narasumber dalam acara bedah buku di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Faisal bilang, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di sektor maritim, Indonesia perlu terus menjaga dan mengawal kedaulatan negara hingga kedaulatan pangan.

Sebab, kekayaan di sektor maritim bisa menjadi tameng atau penolong disaat Indonesia masih ketergantungan bahan pangan impor mulai dari beras hingga gandum.

“Urusan perut kita sudah defisit, lebih banyak impor dari pada ekpsor, karena sebagain besar asupan perut kita berasal dari impor yaitu gandum dan beras,” ujar Jakarta, Rabu (28/2).

Keponakan dari mendiang mantan Wakil Presiden Adam Malik itu menegaskan, ketergantungan pangan impor bukan hanya terjadi para era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetapi sudah dimulai era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Apa yang bisa kita andalkan gandum tidak bisa produksi, tidak banyak yang bisa kita harapkan, ngeri saya defisit pangan ini terjadi terus menerus, dan bukan terjadi pada era Jokowi, dan sudah berlangsung era SBY tahun 2008,” kata Faisal Basri.

Kata Faisal, pemberantasan illegal fishing juga sebagai upaya Menteri Susi dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Apa yang dikatakan Faisal Basri itu sangat beralasan, tentunya. Lihat saja, dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) tahun 2017 tumbuh sebesar 2,57 persen dibandingkan tahun 2016, yaitu dari 108,24 pada 2016 menjadi 111,01 di tahun 2017.

“Saya enggak habis pikir, jika Ibu Susi dibilang bisanya menenggelamkan kapal saja,” pungkas Faisal.

Disisi lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga menegaskan, praktik pencurian ikan secara ilegal bukan hanya sekedar pelanggaran hukum, tetapi juga mengancam kedaulatan negara dan perekonomian nasional.

“Dari hasil investigasi kita illegal fishing yang dilakukan oleh kapal asing bukan hanya sekedar pencurian ikan tetapi human trafficking, pengiriman senjata ilegal atau barang ekonomi lainnya dari minuman keras, semen, gula dan segala macam,” ungkap Susi.

Susi bilang, pelaku pencurian ikan, sering kali tidak hanya mencuri ikan saja, tetapi terkadang juga membawa barang-barang terlarang.

“Tidak membawa ikan saja. Tapi bawa burung, buaya, kura-kura apa saja yang makin dilarang makin mahal harganya. Kedaulatan itu dipertaruhkan,” tegas pemilik Susi Air ini. (RFN)