Wakil Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI Martin Hutabarat mengungkapkan, jika kita tidak bisa menerima keberagaman di negeri ini. Boleh jadi, sesungguhnya kita sedang meniadakan Indonesia. Kita bisa bayangkan, dahulu beribu pejuang kemerdekaan yang datang dari berbeda suku, ras dan agama rela mati berkorban jiwa dan raga, untuk kemerdekaan bangsa ini. (Foto-dok:Public Relations GEKIRA)

BINTANGTIMUR.NEWS, Bogor. – Fraksi Partai GERINDRA MPR-RI bekerjasama dengan Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bertajuk ‘Merajut Kebersamaan Dalam Bingkai NKRI’ yang digelar di Ballroom Hotel Novotel Bogor, Selasa (10/4).

Peserta sosialisasi adalah Anggota DPRD GERINDRA yang Kristiani seluruh Indonesia, serta Pengurus Pusat, Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang GEKIRA se Indonesia. Dalam seminar Empat Pilar Kebangsaan ini, isu Kebhinekaan hangat dibicarakan.

Wakil Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI Martin Hutabarat mengatakan, jika kita tidak bisa menerima keberagaman di negeri ini. Boleh jadi, sesungguhnya kita sedang meniadakan Indonesia. Kita bisa bayangkan, dahulu beribu pejuang kemerdekaan yang datang dari berbeda suku, ras dan agama rela mati berkorban jiwa dan raga, untuk kemerdekaan bangsa ini.

“Lihat hasilnya, lantaran pengorbanan para pendahulu itulah, kita menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Jangan lantaran kita berbeda baik itu suku, ras maupun agama lantas kita sebagai anak bangsa pun tercerai-berai. Ingat, kita negeri yang punya semboyan berbhineka tunggal ika,” kata Martin di Bogor, Selasa (10/4).

Martin menambahkan, ada baiknya, kita sebagai generasi penerus mulai kini belajar memaknai esensi arti penting Bhineka Tungga Ika yang tidak serta merta sebagai sebuah semboyan negara belaka. Pahami, resapi dan amalkan itu dalam kehidupan di sekitar kita. Pancasila harus menjadi nyata dalam tindakan kita sehari-hari.

“Hari-hari ini masyarakat Kristiani di Indonesia seperti khawatir betul dengan GERINDRA. Saya ingin katakan, GERINDRA tetap setia pada PANCASILA, tak surut sejengkalpun. Mungkin mereka belum kenal. Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk itu GEKIRA diutus,” tambah Fary Francis Ketua Umum GEKIRA.

“Hari-hari ini masyarakat Kristiani di Indonesia seperti khawatir betul dengan GERINDRA. Saya ingin katakan, GERINDRA tetap setia pada PANCASILA, tak surut sejengkalpun. Mungkin mereka belum kenal. Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk itu GEKIRA diutus,” tambah Fary Francis Ketua Umum GEKIRA.

Fary melanjutkan, bagi GERINDRA Pancasila dan kebhinekaan itu harga mati. Oleh sebab itulah, GEKIRA sebagai sayap Kristiani di Partai Gerindra yang berdiri sejak 2009 lalu itu diutus untuk mewartakan, bahwa GERINDRA tak akan pernah berpaling dari Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945 dalam kesatuan NKRI.

Selain GEKIRA, di GERINDRA warna kebhinekaan nyata dengan hadirnya sayap-sayap Partai seperti Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA), Gerakan Masyarakat Sana Thana Dharma Nusantara- Sayap Hindu Buda Indonesia Raya (Gema Sadana) dan Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (PETIRA). (RFN)