Bicara menyoal alokasi investasi di jalan tol, sayangnya, manajemen Grup Astra enggan menyebutkan besaran alokasi anggaran untuk investasi tersebut pada tahun ini. Kendati, jika di total, Astra Grup sudah mengalokasikan belanja modal dan investasi sepanjang 2018 mencapai sebesar Rp 25 triliun. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Rencana PT Astra International Tbk (ASII) gencar melakukan ekspansi di sejumlah sektor bisnis, bukan sekedar isapan jempol belaka. Lihat saja, belakangan ini ASII lewat salah satu lini bisnisnya gencar betul mengembangkan infrastruktur jalan tol. Disinyalir, pun manajemen ASII kerap membuka peluang terhadap investasi jalan tol.

Terkait hal tersebut, kini ASII pun getol membidik peluang bisnis, termasuk melirik pada rencana pemerintah mendivestasikan aset-aset BUMN di sektor jalan tol.

“Kami berminat, terutama untuk bisnis jalan tol di Trans Jawa,” ungkap Investor Relation ASII Tira Ardianti, Rabu (18/4).

Soal niatan Astra Grup kepincut menggarap ruas jalan tol Trans Jawa bukan tanpa pertimbangan, tentunya. Kata Tira, lalulintas yang lebih tinggi di jalan tol Trans Jawa menjadi salah satu pertimbangan ASII fokus menggarap jalan tol tersebut.

Tira bilang, saat ini Astra Grup sudah membenamkan investasinya di sejumlah ruas jalan tol. Seperti ruas jalan tol Tangerang–Merak sepanjang 72,4 kilometer, ruas jalan tol Jombang-Mojokerto (40,5 km), ruas tol Cikopo–Palimanan (116 km), ruas tol Kunciran–Serpong (11,2 km) dan ruas tol Serpong–Balaraja (39,8 km).

Bicara menyoal alokasi investasi di jalan tol, sayangnya, manajemen Grup Astra enggan menyebutkan besaran alokasi anggaran untuk investasi tersebut pada tahun ini. Kendati, jika di total, Astra Grup sudah mengalokasikan belanja modal dan investasi sepanjang 2018 mencapai sebesar Rp 25 triliun.

Menariknya, terkait rencana pemerintah menurunkan tarif jalan tol pun tak menyurutkan nyali besar ASII dalam berbisnis jalan tol. Sebab, menurut Tira, ASII meyakini betul akan ada kompensasi tertentu yang diberikan pemerintah terkait rencana penurunan tarif jalan tol.

Kendati, di sektor bisnis otomotif, boleh dibilang pangsa pasar alias market share kendaraan roda empat milik Astra Grup tergerus pada awal tahun ini. Dari data Gaikindo, per Maret 2018 saja, pangsa pasar mobil Astra sebesar 50%, turun dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 55%.

Pun Tira menyebutkan, penurunan market share alatan dipicu sejumlah faktor. Misalnya, adanya kompetisi dan kenaikan harga komoditas, sehingga konsumen lebih tertarik ke mobil komersial.

“Selain itu, kami juga melakukan inventory management. Kami turunkan inventory supaya agak sehat, makanya market share terkoreksi,” ujar Tira.

Jangan lupa, sebelumnya memang pangsa pasar ASII pada 2016 di sektor otomotif itu cukup besar. Ya, tak kala Astra Grup meluncurkan LCGC untuk tujuh penumpang. Jadi, wajar betul, jika kini ASII tengah mengatur strategi untuk kembali mendongkrak pangsa pasar di sektor otomotif.

“Kami ingin mempertahankan market share di kisaran 50%,” sambung Tira. (RFN)