Bintangtimur.news – Kupang – Tiga komponen penting bangsa yang belum diurus serius Pemerintah Indonesia. Dalam perspektif ekonomi, tiga komponen penting itu adalah pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Penegasan itu disampaikan pelaku ekonomi nasional dan internasional, Hashim S. Djojohadikusumao, saat memberi Kuliah Umum dan Diskusi Kebangsaan dengan tema Paradoks Ekonomi Kebangsaan Indonesia, di Aula Nibaki Kampus STIKES Nusantara Kupang, pada Senin (11/6).

Kuliah umum ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Kunci Ilmu dan STIKES Nusantara Kupang. Hadir pada kesempatan ini, Ketua Komisi V DPR RI Fary Francis dan Penasehat Yayasan Kunci Ilmu Esthon Foenay, serta undangan.

Hashim mengungkapkan berbagai fakta bangsa Indonesia di mata dunia. Dimana jika dibandingkan dengan beberapa negara, pada tahun 1960, Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alamnya. Tetapi hingga tahun 2018, negara-negara yang tadinya miskin, berubah lebih kaya.

Hal tersebut karena negara-negara tersebut Kerja keras dan membangun ekonomi dan sistem pendidikannya. Bekerja keras maksudnya, lebih kepada bagaimana upaya keras pemerintah untuk membangun ekonomi yang baik di Indonesia.

Dia menambahkan, seharusnya pemerintah membangun ekonomi kerakyatan yang dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki rakyat. Dimana, bisa membangun rakyat di Indonesia yang bermental kerja keras. Terutama, dalam hal ini membangun potensi yang dimiliki oleh rakyat. Tetapi, saat ini ada begitu banyak kesenjangan terjadi di Indonesia, dimana ekonomi, lebih banyak dikuasai oleh pengusaha dan orang kaya.

“Ada begitu banyak kesenjangan sosial terjadi di Indonesia. Sebut saja, sebagian besar ekonomi di indonesia dikuasai oleh pengusaha-pengusaha dan orang kaya. Kapan rakyat dibangun ekonominya, ” bebernya.

Terkait pendidikan nasional, dirinya mengatakan bahwa, pendidikan harusnya memiliki peran penting di Indonesia. Disebutkan, Korea Selatan pada tahun 1960 adalah negara yang miskin. Tetapi saat ini, peringkat dunia satu, karena mengutamakan sistem pendidikannya.

Lebih lanjut menurutnya, salah satu pengaruh paradoks ekonomi Indonesia, yakni kesehatan. Menurutnya, masalah kesehatan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Untuk itu perlu perhatian lebih baik lagi untuk kesehatan. Karena secara Internasional, Indonesia masih mengalami peringkat yang memprihatinkan, dalam bidang kesehatan.

Untuk lingkungan hidup sendiri menurut Hashim, 8-40 tahun yang akan datang, Indonesia akan kehabisan kandungan energi, seperti minyak bumi, batu bara dan energi panas bumi. Menurutnya, jika tidak ada upaya pengembangan energi terbarukan, maka Indonesia akan kehabisan kebutuhan Energi. Bahkan Indonesia akan terus mengimport energi dari luar.

Diakhir penyampaian materinya, dirinya mengatakan bahwa, dari pengalamannya sebagai pelaku ekonomi di 44 negara dan 4 benua, dirinya mengajak untuk bersama-sama mencari solusi untuk menjawab berbagai tantangan di Indonesia. (AM7/*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here