Bintangtimur.news – Jakarta – Meliana, warga Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, divonis Pengadilan Negeri Medan satu tahun enam bulan penjara atas kasus penistaan agama. Hakim menilai ia terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 a KUHP atas perbuatannya memprotes volume suara azan yang berkumandang di lingkungannya.

Berkenaan dengan keputusan itu, Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira) menyatakan keprihatianan yang mendalam atas kasus yang menimpa Meliana.

Ini Pernyataan Sikap GEKIRA Terhadap Kasus Meiliana :

!. Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira) menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus yang menimpa ibu Meiliana. Kasus ini mengindikasikan bahwa kebebasan pendapat warga negara yang diamanatkan Undang-Undang sedang terancam dan nilai keadilan sosial belum berpihak pada kaum minoritas.

2. Gekira menilai pernyataan Meiliana lantaran memprotes kerasnya suara azan bukan bagian dari penodaan agama. Meiliana tidak sedang melecehkan keyakinan agama tertentu. Ia hanya mengeluhkan volume suara bukan isinya. Jelas di sini keadilan hukum sedang dipertaruhkan. Meiliana dihukum, yang merusak Vihara tak tersentuh. Gekira mengecam praktik tebang pilih penegakan hukum semacam ini

3. Gekira menyerukan agar proses hukum Meiliana dihentikan dan Meiliana segera dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Meiliana adalah korban dari ketidakadilan hukum.

4. Gekira menyerukan kepada setiap anak bangsa untuk tetap menjaga toleransi, saling merawat keberagaman dan respek satu terhadap yang lain. Kasus Meiliana adalah catatan bahwa persoalan yang bisa dimusyawarahkan, dibicarakan secara kekeluargaan tidak mesti dipaksakan ke ranah hukum dengan melanggar kaidah-kaidah keadilan hukum. Kain toleransi yang telah kita rajut dari helai benang demi benang harus terus dirawat.

  1. Gekira meminta negara harus hadir dalam persoalan Meiliana. Negara mesti menjamin kebebasan berpendapat dan keadilan sosial bagi seluruh warganya. Jangan biarkan aksi-aksi premanisme dan anarkis merobek-robek rasa keadilan hukum rakyat Indonesia.

Sikap Gekira itu disampaikan kepada bintangtimur.news melalui rilisnya yang ditandatangani Ketua Umum Pengurus Pusat Gekira Fary Djemi Francis.

“Kita berharap negara harus hadir dalam persoalan ini dan tidak membiarkan aksi premanisme dan anarkis dalam setiap roses keadilan hukum rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Seperti ditulis Tempo, kasus ini bermula pada Senin, 29 Juli 2016. Suasana di Jalan Karya Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Balai Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan tegang setelah seorang warga, yaitu Meiliana menyampaikan proses terhadap suara azan yang menggema dari Masjid Al Maksun.

Berdasarkan penelusuran Tempo dua tahun lau, protes Meiliana disampaikan kepada salah seorang nazir masjid bernama Kasidik. Kasidik lalu memberi tahu teguran tersebut kepada jemaah masjid setelah Shalat Magrib.

Setelah berdialog dengan jemaah masjid, Harris Tua Marpaung selaku Imam Masjid dan beberapa pengurus Badan Kemakmuran Masjid mendatangi rumah Meiliana. Di sana sempat terjadi perdebatan antara jemaah masjid dengan Meiliana.

“Lu, Lu yaa (sambil menunjuk ke arah jemaah masjid). Itu masjid bikin telinga awak pekak. Kalau ada pula jemaah minta berdoa, minta kakilah bujang, bukannya angkat tangan,” ucap Meiliana seperti diceritakan Harris Tua saat dijumpai Tempo di Masjid Al Maksun pada Kamis, 4 Agustus 2016.

Mengenai perkataan yang diucapkan Meiliana itu, kuasa hukum Meiliana, Ranto Sibarani meminta agar dibuktikan lewat rekaman. Dalam pledoinya, Meiliana hanya menyampaikan kepada seorang pemilik warung bernama Kasini alias Kak Uo soal volume pengeras masjid yang makin keras pada 22 Juli 2018. Kalimat yang saat itu disampaikan Meiliana adalah “Kak, dulu suara Mesjid kita tidak begitu besar ya, sekarang agak besar ya”, dengan nada yang pelan. “Tidak ada Meiliana melarang azan dikumandangkan. Namun kemudian kalimat tersebut berkembang kemana-mana dengan kalimat yang sudah sangat berbeda dengan yang sebenarnya” kata Ranto dalam pledoi itu.

Perdebatan yang terjadi di rumah Meiliana pada 29 Juli 2016 tersebut tidak berlangsung lama karena suami Meiliana, Lian Tui, hadir menjadi penengah dan meminta maaf kepada jemaah masjid. Namun suasana kembali tegang setelah Meiliana kembali berteriak dan marah saat adzan Isya. Sikap itu membuat masyarakat makin emosi. Pengurus Badan Kemakmuran Masjid dan jemaah membawa Meiliana ke kantor Kelurahan Tanjung Balai Kota 1.

Di sana, Meiliana disoraki oleh masyarakat meski telah meminta maaf di hadapan Lurah Tanjung Balai Kota 1 saat itu, Edy Muriadi. “Enggak sempat buat permintaan maaf di atas kertas. Karena kami anggap sudah makin tidak kondusif, makanya dibawa ke Polsek Tanjung Balai,” kata Edy saat ditemui di kantornya, 4 Agustus 2016.

Edy sempat akan pulang usai membawa Meiliana ke kantor Polsek. Namun Camat Tanjung Balai Selatan memintanya kembali ke kantor polisi untuk mediasi. Di tengah mediasi, sekitar pukul 21.30 WIB sebuah kerusuhan pecah. Diduga warga dari luar kelurahan Tanjung Balai Kota 1 mendatangi rumah Meiliana dan melakukan pengrusakan. (AM7/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here