"Karena enggak mampu merangkai argumentasi dan narasi yang baik, yang terjadi saling menjelekkan," (foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Hari ini, Jum’at (05/10) Fraksi Gerindra MPR RI menggelar acara seminar nasional yang bertajuk “Merawat Demokrasi, Mengawal Konstitusi, Menyambut Transisi”. Pada kesempatan itu hadir juga beberapa narasumber kondang diantaranya, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua Fraksi Gerindra MPR RI Fary Djemy Francis, pengamat politik Rocky Gerung, Ahli Hukum Tata Negara Margianto Kamis dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Simanjuntak di Hotel Santika Depok.

Ada yang menarik di acara seminar yang digagas oleh Fraksi Gerindra MPR RI, kala itu. Salah satunya, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Simanjuntak. Dari kacamata Dahnil, dia melihat adanya ancaman demokrasi atas kemunculan anak muda yang kini terjun ke politik. Menurutnya, mereka terlalu mudah menyebut diri politisi muda. Berbeda dengan politisi muda di masa lalu yang telah melalui proses kaderisasi yang panjang.

“Saya melihat anak muda sekarang banyak yang mau terjun politik. Tapi ada juga anak yang terjun ke politik model dan modal demokrasinya hanya HP (handphone) dan ngafe,” jelasnya.

Lantas, Juru Bicara Prabowo-Sandiaga itu pun bercerita singkat menyoal proses panjang yang dilaluinya sebagai aktivis, sebelum terjun ke dunia politik. Saat itu, Dahnil bilang, berdebat menjadi hal yang biasa, namun tak memutus tali silaturahmi dengan lawan debatnya. Tetapi, Dahnil mengatakan, anak muda yang terjun ke politik saat ini tidak demikian.

“Saya bisa beda dengan siapapun tapi tidak pernah memutus tali silaturahim. Saya beda dengan PKB, tapi dengan Cak Imin saya bisa bersilaturahim dengan biasa. Maksud saya, politik kita tampil jadi politik yang baper karena modal HP dan ngafe, jadi politiknya alay,” kata dia.

Pun Dahnil melanjutkan, alasan inilah yang membuat politik di kalangan muda Indonesia jadi baper. Padahal, Dahnil melanjutkan, harusnya politik tak membawa perasaan.

“Maksud saya, politik kita tampil jadi politik baper. Politik karena modalnya HP dan ngafe tadi, politiknya jadi politik alay. Pokoknya kalau lu beda sama gw, lu musuh gw,” ujar Dahnil.

Kata Dahnil Azhar, anak muda berpolitik saat ini menganggap orang lain sebagai musuh jika berbeda pilihan politik. Sehingga, ia melihat politik saat ini sudah tidak lagi menjadi ajang adu gagasan dan argumentasi. Semestinya, politik merupakan seni merangkai argumentasi dan membangun nalar.

“Karena enggak mampu merangkai argumentasi dan narasi yang baik, yang terjadi saling menjelekkan,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here