"Harapan saya, seorang presiden RI tidak hanya bisa mengibarkan benderanya sendiri, tapi pemimpin harus bisa mengibarkan bendera yang lain," tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Yogyakarta — Fraksi Gerindra Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI), menggelar seminar kebangsaan bersama organisasi wartawan Yogyakarta yang bertajuk Konsolidasi Nasional Menuju Pemilu 2019 di Yogyakarta, Jumat (19/10/2018) malam. Menariknya, acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X. Lantas, apa yang disampaikan oleh orang nomer satu di Yogyakarta itu?

Putra tertua Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengharapkan betul, semestinya seorang Presiden tidak hanya bisa mengibarkan benderanya sendiri. Tetapi, seorang pemimpin juga harus bisa mengibarkan bendera yang lain.

“Harapan saya, seorang presiden RI tidak hanya bisa mengibarkan benderanya sendiri, tapi pemimpin harus bisa mengibarkan bendera yang lain,” tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Memang, apa yang disampaikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, itu betul. Sebab, menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar simbol negara belaka, melainkan strategi integrasi bangsa.

“Sehingga yang kecil apa pun. Parpol maupun etniknya tetap menjadi bagian besar negara Indonesia,” ujarnya.

Raja Kesultanan Yogyakarta itu bilang, bhinneka sudah final karena yang berbeda-beda sudah menyatakan diri satu.

“Mestinya dengan Ika itu kita pun mengakui juga yang berbeda-beda itu. Tapi kita tidak pernah diberitahu oleh para pemimpin. Selalu bicaranya, Bhinneka, kemajemukan, tapi tidak pernah dikatakan yang Ika itu pun harus menerima perbedaan,” katanya.

Nah, menilik apa yang disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X itu. Ketua Fraksi Gerindra di MPR RI, Fary Djemy Francis setuju betul sekaligus mendukung pernyataan Raja Kesultanan Yogyakarta tersebut.

“Jangan anggap oposisi sebagai musuh berkompetisi, tetapi jadikan oposisi sebagai teman berdemokrasi,” tegas Ir. Fary Djemy Francis, MMA. (Foto-dok:Istimewa)

Fary Francis bilang, demokrasi adalah cara paling tepat dalam menjalankan roda bernegara. Menurutnya, kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat.

”ironisnya, terkadang demokrasi saat ini malah melahirkan beragam persoalan. Seperti konflik horizontal, kampanye Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA), berita hoaks, fitnah, politik uang, dugaan keberpihakan penyelenggara dan lain sebagainya.”, ujar Fary

Pun Fary Francis melanjutkan, perbedaan dan perdebatan adalah hal biasa dalam demokrasi. Sebab, lanjut dia, Bangsa Indonesia pun bisa besar karena perdebatan panjang para founding father.

Lantas, Fary Francis pun mengingatkan, bahwa perdebatan itu dilakukan bukan untuk menghancurkan, tetapi dengan semangat saling menguatkan. Karena itu sambung dia, pemerintah seharusnya berterima kasih kepada oposisi karena di saat pemerintah salah jalan, pihak oposisi lah yang meluruskan.

“Jangan anggap oposisi sebagai musuh berkompetisi, tetapi jadikan oposisi sebagai teman berdemokrasi,” tegas Fary Djemy.

Ketua Komisi V DPR RI itu pun mencontohkan, Negara Timur Tengah yang memiliki suku dan budaya nyaris sama kerap terlibat pertikaian dalam perbedaan. Sementara, di Indonesia yang memiliki suku dan budaya bermacam-macam, kata dia, tetap bisa bersama-sama tanpa perpecahan.

“Inilah potret salah satu hikmah perbedaan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here