Bintangtimur.news – Kupang – Amfoang, salah satu wilayah di Kabupaten Kupang yang masih “belum merdeka”. Keterbatasan infrastruktur membuat wlayah ini masih terisolir dibandingkan dengan daerah lainnya di wilayah Kabupaten Kupang.

Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis memiliki tekad khusus untuk memajukan Amfoang. Sebagai wakil rakyat asal NTT, tekad dan kemauannya agar Amfoang setara dengan daerah lain di NTT terus bergelora.

Karena itu, untuk kesekian kalinya, Fary Francis bersama rombongan anggota Komisi V lainnya beserta mitra kerjanya kembali mengunjungi Amfoang.

Rabu (7/11), bersama rombongan Fary Francis kembali ke Amfoang. Hadir pula Bupati Kupang terpilih dan jajarannya, Sesditjen Dirjen Perhubungan Laut, pihak Balai Perhubungan Darat wilayah NTT, Dinas Perhubungan NTT, pihak Navigasi dan 50 pendeta wilayah klasis Kuda (Kupang daratan) Semau.

Kala itu, rombngan menjemput senja di perairan Naikliu dan merapat di pelabuhan saat malam menjemput.

Rombongan disambut meriah di bibir pelabuhan. Luar biasa warga bertahan dari jpukul 16.00 menanti acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan dermaga penyeberangan Naikliu. Dari pelabuhan rombongan langsung menuju tempat acara yang juga suda dinanti ratusan warga.

Untuk diketahui, Tahun 2016, untuk menjawab kebutuhan transportasi laut warga Amfoang utara, Ketua Komisi V memperjuangkan satu kapal penyeberangan dan melakukan pelayaran perdana dengan KMP Lakaan ke Naikliu.

Saat itu warga bersukacita karena setelah kapal Timau mangkrak beberapa tahun lalu, baru hadir lagi kapal fery yg baru ini.

Wakil rakyat NTT ini langsung mengawal hingga Naikliu. Namun pada saat itu kapal tidak bisa sandar karena kondisi pelabuhan tidak mendukung.

Cukup sulit untuk mobilisasi penumpang, barang dan kendaraan. Bersama Dirjen Perhubungan Laut, Ketua Komisi V berjuang keras agar persoalan Naikliu bisa dipecahkan.

Satu-satunya jalan adalah membangun dermaga baru. Puji Tuhan. Perjuangan itu berhasil dengan dimulainya pembangunan dermaga penyeberangan Naikliu.

Lokasi dermaga memiliki luas 1 hektar. Anggaran dermaga mencapai Rp 30 miliar dari APBN. Pelaksanaannya bertahap hingga operasional pada tahun 2020.

Di tengah kesulitan transportasi darat, pilihan transportasi laut adalah jalan terbaik untuk menggerak roda perekonomian warga, mobilitas orang dan barang dari Amfoang ke Kupang dan sebaliknya.

“Terima kasih Amfoang. Kami belajar banyak hal. Selain daya tahan yang luar biasa menjalani kehidupan, warga Amfoang mengajarkan kami tentang kesetiaan. Dalam situasi yg oleh banyak orang disebut “belum merdeka”, warga Amfoang tetap setia mencintai kampung, membangun hidup dan masa depan anak-anak menuju situasi “alekot”,” ungkap Isidorus Lilidjawa, staf khusus Komisi V DPR RI. (*/AM7)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here