Sumber photo Okezone.com

Bintangtimur.news, Atambua — Ada perang tak kasatmata di daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Perang ini tak ada urusannya dengan kekejaman, konflik, dan pertikaian biasa.

Di era teknologi informasi seperti saat ini, sinyal telekomunikasi punya arti penting bagi hajat hidup orang banyak. Perebutan sinyal di udara bak peperangan menuju ponsel-ponsel di tangan warga. Fenomena ini dirasakan orang-orang di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, dan di Timor Leste.

Dipertengahan 2017 hanya ada satu sinyal yang masuk ke ponsel yang kami bawa, yakni sinyal dari Telkomsel. Tak ada lagi sinyal dari operator telekomunikasi seluler Indonesia lainnya yang berhasil terdeteksi.

Masyarakat di sini mengonfirmasi hal serupa. Kata mereka, ada pula sinyal dari perusahaan Indonesia lain dengan jangkauan terbatas di Atambua, ibu kota Belu. Namun sayang, hal itu tak terbukti di ponsel yang ada.

Sekitar 40 km dari Atambua, tepatnya di daerah Pos Perbatasan Turiskain, Kecamatan Raihat, masyarakat menyatakan hal senada. Di perbukitan dan padang rumput Fulan Fehan, Kecamatan Lamaknen, sinyal Telkomsel menjadi satu-satunya yang muncul di ponsel polyphonic rekan kami. Di Pasar Lolowa, sekitar 15 menit dari Atambua hingga di pesisir utara, juga setali tiga uang.

“Di sini kalau telepon saja lancar pakai Telkomsel,” kata Deni Samborges (17), warga setempat.

Meski demikian, sinyal Telkomsel beradu dengan sinyal dari Timor Leste, yakni Telemor dan Telkomcel. Bila listrik PLN padam dan baterai di menara base transceiver station (BTS) Telkomsel sudah kehabisan tenaga, sinyal dari Timor Leste akan masuk ‘menginvasi’ ponsel-ponsel warga setempat.

“Di sini kalau hujan besar, dari malam sampai pagi bisa mati listriknya,” kata Deni.

Sebagai siswa kelas II SMA, Deni juga butuh asupan informasi via internet. Namun itu tak mudah didapat. Dia harus pergi ke Haekesak, ibu kota kecamatan. Atau pilihan lain, pakai sinyal internet dari Timor Leste.

“Makanya kita butuh Wi-Fi juga di sini. Kita main Facebook saja di sini setengah mati,” tutur Deni.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here