foto : istimewa

Bintangtimur.news – Kupang – Kasidah yang dibawakan Remaja Masjid Nur Salam, Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), membahana dari halaman Gereja Kristus Raja Wangatoa. Tepuk tangan warga menyambut penampilan para remaja masjid.

Setelah itu, pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Solavide dan Bethel Rock Ministry menyanyikan sejumlah lagu. Kemudian, penampilan anak Sekami dan Sekar Paroki Kristus Raja Wangatoa semakin menambah semarak suasana.

Kegiatan yang menjadi bagian aksi seribu lilin cinta damai, antiteroris, dan berita palsu pada Minggu (3/6) malam itu diawali dengan pembacaan teks Pancasila. Hadir dalam aksi itu antara lain tokoh dari lima agama dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Lembata Isak Sulaiman.

“Saya menikmati keindahan alunan lagu yang menggambarkan karakteristik kepercayaan agama yang dianut di Wangatoa ini. Setidaknya, gambaran seperti inilah yang kita harapkan dari beragam agama di Indonesia. Bukankah kebersamaan dalam perbedaan itu menunjukan keindahan hidup di Indonesia,” ujar Seksi Komunikasi sosial Gereja Paroki Kristus Raja Wangatoa Vince Bataona.

Puncak acara adalah pembakaran lilin yang membentuk gambar Garuda Pancasila oleh para tokoh agama dan seluruh umat yang hadir.

Isak Sulaiman mengapresiasi dan mengungkapkan keinginan belajar keberagaman di Wangatoa. “Terima kasih untuk para pemuda lintas agama yang menginisiasi kegiatan kerukunan di tengah degradasi, desintegrasi, dan berkembangnya paham radikalisme yang terjadi saat ini,” kata dia.

“Agama mengajarkan cinta kasih dan rahmat dari Allah yang harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi rahmat di tanah-tanah tandus. Mari menjaga persaudaraan sejati. Kita tetap Indonesia, kita tetap NTT, kita Lembata. Kegiatan ini menjadi awal membangun dialog bersama untuk hal yang lebih besar,” ujar Sulaiman.

Perwakilan dari Masjid Nur Salam Dua Kamaludin Dohor mengatakan, warga jangan terpengaruh dengan semua berita yang memecah belah persatuan. “Jadikan Wangatoa sebagai laboratorium kerukunan,” ujarnya. (AM7/Aleksander PT Taum)

sumber : mediaindonesia.com