foto : isitimewa

Bintangtimur.news – Jakarta – Generasi milenial akan memilih apartemen sebagai alternatif tempat tinggal ketimbang rumah tapak (landed house).

Hal ini karena apartemen dianggap lebih praktis dengan segala fasilitasnya mulai dari kafe hingga tempat pertemuan (meeting). Faktor lain yang mendorong minat kaum milenial terhadap apartemen adalah sulitnya mendapatkan rumah tapak dengan harga terjangkau di Ibu Kota. Tren tersebut diperkirakan terus bergeser ke daerah penyangga yang tidak terlalu jauh dari Ibu Kota.

 “Ke depan akan bergeser ke daerah penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. Mereka (kaum milenial) akan memilih tinggal di apartemen terutama di wilayah yang premium dengan lahan yang terbatas,” kata ujar Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta kemarin.

Berdasarkan kajian Colliers, ujar Ferry, apartemen menjadi pilihan karena kalangan muda saat ini menginginkan tempat tinggal yang dekat dengan aktivitas bisnis. Keberadaan apartemen ini kemudian diikuti dengan maraknya ruang berbagi kantor (co-working space) yang bisa disewa secara harian atau bulanan. Tumbuhnya perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air turut mendorong tren coworking space.

Sementara itu, pembangunan gedung yang melebihi permintaan membuat harga sewa perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) cenderung menurun. Secara umum, Ferry memperkirakan tahun ini industri properti rata-rata akan mengalami pertumbuhan sekitar 5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, kata dia, menghadapi tahun politik tahun ini terdapat dua kemungkinan bagi calon investor, yaitu menjadikan momentum untuk berinvestasi atau menunggu kondisi terkini di Tanah Air. Meski demikian, kondisi perekonomian nasional yang dinilai stabil akan menjadi salah satu indikasi semakin membaik nya industri properti di Indonesia.

Hal tersebut juga sudah terlihat pada 2017, di mana industri properti sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk kawasan industri misalnya, dari segi harga kita masih lebih kompetitif dibanding kan Vietnam, yang menarik pasar kita banyak, dengan tenaga kerja yang lebih rendah secara biaya, ini bisa menarik investor,” urainya.

Ferry juga menjelaskan bahwa kebutuhan rumah tapak akan tetap tinggi. Namun, yang harus diperhatikan adalah bagaimana kalangan menengah ke bawah bisa mendapatkan akses pembiayaan untuk mendapatkan rumah.

“Isu di kalangan pengembang, mereka kurang mendapat dukungan dari pemerintah, terutama insentif pajak dan harga tanah yang sulit terjangkau masyarakat luas,” urainya. (okezone.com/AM7)