Para pelajar di Desa Engkulun Kecamatan Nanga Taman melewati jembatan yang sudah roboh.

Perjuangan anak-anak Indonesia untuk mengikuti proses belajar di sekolah beragam. Dibandingkan dengan situasi pelajar di kota besar, mereka di pedalaman juga wilayah perbatasan membutuhkan usaha ekstra untuk bersekolah. Sebagian berjalan kaki beberapa jam, yang lain melewati bukit juga sungai.

Kali ini di Desa Engkulun Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, diberitakan, jembatan gantung yang terbuat dari kayu roboh. Jembatan kayu ini merupakan akses vital bagi masyarakat sekitar, rilis tribun Pontianak hari ini (5/10/2017).

Camat Nanga Taman, Paulus Ugang, saat dikonfirmasi membenarkan robohnya jembatan Engkulun.

“Jembatan itu roboh sejak bulan Agustus. Sudah dikoordinasikan dengan jajaran pemerintahan setempat mulai dari RT sampai Dinas terkait namun belum juga ada tindak lanjut.” ungkap Paulus.

Jembatan ini, dalam laporan tribun disebutkan, merupakan satu-satunya akses bagi para pelajar ke sekolah juga untuk aktivitas masyarakat di Desa Engkulun.

“Harus segera diperbaiki, tak ada jalan lain bagi anak-anak ke sekolah selain melewati jembatan itu.” tegas Paulus.

Pihak Desa dan Kecamatan mendesak Dinas terkait untuk segera mengambil tindakan. Perbaikan segera adalah bentuk dukungan pemerintah terhadap proses belajar anak dan remaja di wilayah ini. (AC)