Sumber photo Dokumen Ignas
Bintangtimuur.news – Ini adalah sebuah misah dari sebagian kecil rakyat Indonesia yang tinggal di perbatasan. Penulis kutip dari KOMPAS.com yang ditulis oleh Mikhael Gewati. Siang itu, Ardi (33) bersama kedua rekannya sudah berhasil mengisi penuh muatan kapal dengan banyak ikan. Beberapa jaring yang mereka tebar ke tengah laut ternyata berhasil menangkap banyak ikan. Sampai di sini, semuanya berjalan dengan lancar. Masalah baru muncul ketika mereka hendak pulang ke daratan. Mesin motor yang membawa kapal mereka ke tengah laut mendadak tak bisa berfungsi. Telepon genggam yang mereka bawa pun tidak bisa digunakan karena sulit mendapatkan akses jaringan seluler.
Alhasil ketiga nelayan ini tak bisa memberi kabar ke sanak saudara. Mereka terjebak di tengah laut. Keadaan seperti itulah yang sehari-hari dirasakan warga Pulau Salura, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama 72 tahun Indonesia merdeka, mereka belum bisa menikmati akses jaringan seluler yang memadai. Gara-gara akses jaringan seluler yang sulit itu, tak jarang warga Pulau Salura hilang di tengah lautan ketika kapalnya mengalami kerusakan mesin. “Sekitar tiga tahun lalu ada warga yang hilang karena kapalnya mengalami kendala saat melaut,” ujar Ibrahim Muhammad Saleh dan Munajar yang juga merupakan warga Pulau Salura, seperti dimuat Kompas.com, Minggu (20/8/2017).
Tak cuma jaringan seluler, masalah lain datang dari ketersediaan pasokan listrik. Pada malam hari, warga di sana harus rela hidup gelap gulita akibat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tak bisa beroperasi selama 24 jam. Menurut Selasa Majid, warga Desa Prai di Pulau Salura, rumah-rumah di sana hanya mendapatkan penerangan listrik dari pukul 08.00 sampai maksimal pukul 21.30 waktu Indonesia tengah (Wita). “Dulu usai PLTS dibangun, listriknya menyala selama 24 jam selama lebih kurang 1,5 tahun. Namun sekarang, kadang pukul 08.00 malam pun sudah padam,” ujar Majid seperti diwartakan Tribunnews.com, Minggu (20/8/2017).
Dengan demikian, lanjut Majid, warga—terutama nelayan—amat dirugikan dengan pemadaman tersebut. Mereka tak dapat lagi menyimpan hasil tangkapan lautnya ke lemari pendingin atau freezer. Tantangan lain datang pula dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Masyarakat di pulau terluar bagian selatan Indonesia ini harus pergi ke Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Warga harus menempuh tujuh jam perjalanan, dengan rincian dua jam ke Pulau Sumba menggunaan kapal dan lima jam perjalanan darat. Itu pun mereka harus menyewa kapal motor nelayan karena tidak ada kapal angkutan dari dan ke Pulau Salura. Untuk ini, warga harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah. Keluhan warga setempat juga terjadi pada bidang kesehatan.
Menurut mereka, pelayanan kesehatan di sana masih kurang karena minimnya petugas medis di wilayah tersebut. Warga Pulau Salura, Kecamatan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan Negara Australia, saat menggelar upacara bendera untuk pertama kalinya di wilayah mereka Warga Pulau Salura, Kecamatan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan Negara Australia, saat menggelar upacara bendera untuk pertama kalinya di wilayah mereka(Dokumen Ignas) Meski mengalami banyak kendala dalam menjalani aktivitasnya, warga Pulau Salura tetap cinta dan setia dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal tersebut terlihat pada peringatan HUT Ke-72 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2017. Waktu itu, ratusan warga dan pelajar di pulau tersebut dengan antusias mengikuti peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan di pinggir pantai. Usai melaksanakan upacara bendera, warga pun mengibarkan 1.945 bendera Merah Putih yang disebarkan di Pulau Salura dan dua pulau terluar lainnya, yakni Pulau Kotak dan Pulau Mangudu. Mereka melakukan itu sebagai bentuk wujud kecintaannya terhadap Republik Indonesia. “Kami semua warga di sini sangat senang dan bangga ada upacara bendera di sini. Sejak dulu sampai sekarang, kami tidak pernah ikut upacara bendera saat hari kemerdekaan, dan ini adalah yang pertama bagi warga,” kata Iwan. (ARS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here