Rakit Pohon Pisang merupakan satu-satunya alat transportasi sederhana yang biasa digunakan warga Alorawe untuk menyebrangkan orang atau barang. Tampak, warga menggunakan rakit menyebrangkan Bapak N.M. Dipo Nusantara Pua Upa saat mengunjungi Desa Alorawe beberapa waktu lalu.

Bintangtimur.news – Kupang – Alorawe, mungkin sangat asing di telinga kebanyakan warga Nagekeo dan NTT. Sebuah desa di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT ini, kehidupannya sangat memprihatinkan. Sejak kehadirannya sampai saat ini, Alorawo masih sangat tertinggal dibandingkan dengan wilayah tetangganya.

Kehidupan tanpa listrik dan tidak ada infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai, membuat Alorawe seperti negeri yang belum ‘merdeka’.

“Inilah kondisi kami selama 80 tahun. Tidak ada yang berubah, tetap seperti ini,” ungkap tokoh adat Alorawe Kornelis Mengi, saat bincang-bincang dengan bintangtimur.news, di Alorawe, beberapa waktu lalu.

Menurut Kornelis, penyebab utama desa ini terisolir karena wilayah ini berada di daerah aliran sungai dengan lebar sungai 80 Meter. Akibatnya, akses dari wilayah ke desa ini tidak bisa dilakukan dengan kendaraan. Satu-satunya akses yang bisa dilakukan hanya menyeberangi sungai. Namun, saat musim hujan, semua aktivitas terhenti.

“Kami sehari-hari kalau mau ada kegiatan di Kecamatan Boawae atau membawa hasil kebun kami, harus melewati sungai dulu. Kalau kondisi hujan besar seperti ini, menyebabkan banjir, maka kami harus berhenti dulu, tunggu sampai banjirnya kurang, baru kami lewat,” ungkap Kornelis yang diamini tokoh adat lainnya yakni Rafael Radjo, Damianus Bele, dan Baltasar Nuga.

Menurut para tokoh adat ini, dalam berbagai kesempatan, pertemuan di kecamatan, dan usulan Desa, permohonan membangun jembatan selalu diusulkan, namun sampai saat ini belum direspon Pemerintah.

Mereka menyadari bahwa pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, namun mereka juga merasa aneh, selama 80 tahun setiap usulan yang sama selalu ditolak.

“Kami tahu bahwa uang pemerintah itu sedikit khususnya di Nagekeo ini. Namun, kami juga heran, masa setiap usulan uang kmai ajukan setiap tahun yakni ingin membangun jembatan di sini, selalu tidak direspon. Kami jadi berpikir, jangan-jangan kami di sini bukan Indonesia juga, masa setiap usulan kami terus ditolak,” ujar Kornelis.

Bagi mereka, yang paling dibutuhkan di Alorawe adalah pembangunan jembatan penghubung, sehingga sungai yang selama ini memisahkan mereka dapat tersambung.

“Saat ini kami berharap pada Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo yang baru ini. Kami hanya minta Pemerintah Nagekeo, Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat bantu kami membangun jembatan. Karena potensi hasil bumi kami di sangat besar. Tapi semua itu apa gunanya kalau akses tidak ada. Kami setiap membawa hasil harus pikul melewati sungai,” ungkapnya.

Rafael Radjo menambahkan, beberapa warga di kampung ini memiliki kendaraan roda dua, namun mereka harus membangun gubug kecil di seberang sungai sebagai tempat parkir kendaraan mereka.

“Kami khawatir juga kalau motor kami bisa saja dicuri orang, namun tidak bisa kami lakukan, motor memang harus parkir di tempat itu, karena tidak ada jembatan penghubung itu,” ungkapnya.

Salah satu tokoh masyarakat Boawae, Herman Jos Dema Goa mengungkapkan, kondisi Alorawe sudah lama dirasakan warganya. Berbagai cara sudah dilakukan agar Desa Alorawe tidak terisolir, namun semua selalu gagal. Padahal potensi daerah ini sangat besar, yakni perkebunan jambu mete dan peternakan terbesar di Nagekeo, dan ribuan hektar lahan pertanian .

“Kalau melihat kondisi warga di kampung itu memang sangat terisolir. Kita kalau mau ke sana, harus parkir kendaraan di kampung sebelah, menyebarangi sungai dengan bantuan rakit pohon pisang, baru bisa sampai di Alorawe. kalau hujan besar, kita pupus sementara keinginan ke kampug itu. Apalagi lagi kita bicara potensi kampung ini, ternyata sangat besar untuk Nagekeo. Kita berharap adanya dukungan dan perhatian serius dari pemerintah,” ungkapnya.

N.M. Dipo Nusantara Pua Upa, salah seorang putra berdarah Nagekeo yang tinggal di Jakarta, pernah mengunjungi Alorawe.

Bagi Dipo, mengunjungi Alorawe merupakan keinginan kemanusian yang harus dilakukannya, untuk melihat lebih dekat kehidupan warga di Alorawe.

“Saya mendapat informasi dari teman-teman saya bahwa Alorawe merupakan daerah yang sangat terisolir. Karena itu, saya langsung datang ke sini, menyeberangi sungai dengan rakit, karena ingin melihat langsung kondisi di sini,” ungkap Dipo saat dialog dengan warga Alorawe.

Setelah melihat langsung kondisi di Alorawe, lanjut Dipo, kebutuhan vital warga di sini adalah jembatan dan embung. Untuk itu, Dia ingin menyampaikan fakta ini kepada komponen terkait, agar bisa membantu mengatasi kesulitan warga di Alorawe.

“Saya tidak menjanjikan untuk membangun jembatan dan Embung, namun kesulitan yang saya lihat langsung ini akan saya sampaikan kepada teman-teman saya, mungkin dengan kapasitas dan kewenangan yang mereka miliki, bisa membantu mempercepat mengatasi kesulitan di kampung ini,” ungkap Dipo.

Dipo berharap dukungan Pemerintah Nagekeo, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, agar kesulitan warga Alorawe bisa segera teratasi.

“Kita menyadari betul bahwa yang punya dana besar hanya pemerintah. Karena itu, persoalan ini harus terus diusulkan ke Pemerintah, mungkin pada saatnya nanti bisa diwujudkan harapan masyarakat ini. Kita coba bersama-sama dengan jaringan yang kita miliki, berjuang bersama mewujudkan kebutuhan vital masyarakat ini,” ungkap Dipo. (AM7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here