Bintangtimur.id — Kupang. Pembangunan perbatasan Indonesia dengan negara lain menjadi salah satu program utama pemerintah. DPR  mendukung penuh program pembangunan perbatasan tersebut.

“Kita memahami betul kondisi perbatasan, khususnya di NTT-Timor Leste. Karena itu, kita sudah setujui alokasi anggaran untuk pembangunan wilayah perbatasan. Tugas itu sudah ada di Komisi V, yang berkaitan dengan infrastruktur dan lainnya,” ujar Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, kepada wartawan, usai pelantikan DPP Untas, di Kupang, Selasa (31/1).

Politisi Partai Gerindra ini menambahkan, penyerapan anggaran untuk perbatasan belum dilakukan sepenuhnya, karena iru di tahun 2017 ini, alokasi dana perbatasan kembali digelontorkan untuk percepatan kawasan perbatasan termasuk NTT. “Kalau tidak salah, kita alokasikan diatas 1 triliun rupiah untuk perbatasan Indonesia. Saya berharap tahun ini bisa membantu percepatan pembangunan kawasan perbatasan,” tegasnya.

Fadli berjanji, persoalan perbatasan di NTT menjadi catatan penting bagi DPR RI, sehingga bisa menjadi agenda penting di DPR.
“Beberapa persoalan perbatasan di NTT menjadi catatan penting bagi kita di DPR RI. Begitu juga dengan daerah perbatasan lainnya,” ungkapnya.
Ketua Komisi  V DPR RI Fary Francis menambahkan, pembangunan kawasan perbatasan menjadi agenda prioritas Komisi V. Seperti pembangunan pos lintas batas negara (PLBN) di Motaain dan Motamasin, pembangunan perumahan perbatasan, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, perhubungan darat dan udara, dan dukungan kemasyarakatan lainnya. “Kita berharap dukungan dari masyarakat NTT khususnya di wilayah perbatasan, sehingga ke depan alokasi anggaran untuk perbatasan negeri terus mendapat tambahan. Karena kita yakin dan optimis, selalu ada harapan di tanah perbatasan,” tegas Fary.

Pater Gregorius Neonbasu SVD meminta Pemerintah RI jangan melupakan perbatasan NTT-Timor Leste. Karena, di perbatasan itu banyak dihuni warga eks Timur-Timor yang sudah membuktikan cinta dan kesetiannya untuk negara ini. “Saya berharap ada dukungan khusus kepada mereka semua yang rata-rata tinggal di wilayah perbatasan,” ujar Pater Gregor yang juga sosiolog nasional itu. (aps)