Sebaiknya, Menkeu Sri Mulyani janganlah melihat dari satu sisi saja. Utang Jepang itu dipegang mayoritas oleh dalam negeri Jepang sendiri. Hampir 50% malah dipegang oleh bank sentral. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Masih menyoal utang, Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa Utang Luar Negeri pada akhir Januari 2018 naik 10,3% (yoy) menjadi US$357,5 miliar atau setara 4.915 triliun (kurs Rp13750 per US$).

Dari catatan BI, untuk utang pemerintah sebesar US$183,4 miliar, atau setara Rp2.521 triliun. Sementara, sisanya merupakan utang swasta yang tembus sebesar Rp2.394 triliun.

Terkait hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR, Heri Gunawan menilai, Menyoal utang tersebut, sudah pasti berdampak pada perekonomian nasional, dan lambat laun tentunya mengganggu daya dukung APBN. Utang sudah pasti menjadi beban APBN. Lebih-lebih setelah berakhirnya Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dan realisasi pendapatan pajak yang masih terus melenceng dari target.

Dan pemerintah, rasanya akan makin sulit merealisasikan Penerimaan Negara yang lebih baik. Di sisi lain, beban jatuh tempo pembayaran utang makin besar. Lebih-lebih utang tersebut didominasi ULN berjangka panjang.

Tahun ini saja, mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI itu menambahkan, beban cicilan utang diperkirakan mencapai Rp390 triliun. Tahun depan, diperkirakan naik lagi di kisaran Rp420 triliun. Total general, beban cicilan utang selama dua tahun, mencapai Rp810 triliun.

Heri Gunawan pun bertanya, apakah angka sebesar itu tidak membebani APBN? Ya, jelas memengaruhi. Belum lagi, gap antara realisasi pendapatan dan belanja, sejauh ini masih belum bisa dipecahkan.

“Saya sudah berkali mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh terlena dengan rasio utang yang disebut-sebut masih aman itu. Kalau dilihat dari trennya, rasio utang terus mengalami kenaikan,” ujar Heri Gunawan.

Selain itu, para analis juga mempertanyakan utang tersebut ke mana larinya? Logika sederhananya, Indonesia dikaruniai Sang Pencipta berupa kekayaan alam yang begitu melimpah. Tentu saja kekayaan alam Indonesia punya nilai ekonomi yang sangat tinggi. Lalu kenapa utang Indonesia begitu tinggi?

Utang pemerintahan Jokowi-JK ini mencapai Rp 4.915 triliun, sehingga publik bertanya-tanya. Bagaimana nanti membayarnya kalau ekspor terus menurun? Lihat saja, catatan Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2018 mengalami defisit US$0,12 miliar. Artinya, sudah 3 kali berturut-turut neraca dagang tekor sejak Desember 2017.

Lantaran, melihat kondisi seperti ini. Belakangan, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto pun mewanti-wanti pemerintah untuk waspada. Jika tidak, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok dalam APBN 2018 sebesar 5,4% tak dapat tercapai.

“Harus jadi perhatian karena tiga bulan berturut-turut neraca perdagangan kita defisit dari Desember 2017. Ini perlu jadi perhatian kita semua, karena bisa mengganggu target pertumbuhan ekonomi,” kata Kecuk di Kantornya, Jakarta, Kamis (15/3).

Tak cukup hanya sampai disitu, jika dilihat dari tahun ke tahun, atau year to date (ytd), Februari 2017 hingga Februari 2018 neraca dagang juga mengalami defisit US$0,87 miliar. Sri Mulyani suka membandingkan utang Indonesia dengan Jepang. Dia hanya melihat nominalnya saja. Atau Rasio utangnya saja. Utang Jepang secara nominal memang jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. Pun rasio utangnya di atas 200%. Bisa jadi Jepang yang tertinggi di dunia.

Kecuk mengingatkan, sebaiknya Menkeu Sri Mulyani janganlah melihat dari satu sisi saja. Utang Jepang itu dipegang mayoritas oleh dalam negeri Jepang sendiri. Hampir 50% malah dipegang oleh bank sentral.

Artinya, pemerintah Jepang berhutang kepada rakyatnya sendiri. Rate bunga utangnya juga sangat rendah. Hanya 1 koma sekian persen. Bandingkan, dengan rate yang Sri Mulyani tetapkan untuk Government Bonds Indonesia. Berapa angkanya Jeng Sri?

Nah, Jepang itu memiliki NIIP tertinggi di dunia, yakni US$2,812,543,005,181. Bandingkan dengan Indonesia, minus US$413,106,000,000 USD. Ini angkanya minus, lho. Bisa malu dan keliru Sri Mulyani dalam soal ini.

Artinya kita termasuk negara debitur yang parah. Dalam memberikan penilaian atas utang luar negeri, janganlah melihat dari satu sisi saja. Nominal utang Jepang memang tinggi. Tapi utang itu dipegang mayoritas dalam negeri. Sehingga Jepang sebenarnya adalah negara kreditur.

Sedangkan Indonesia adalah negara debitur yang parah dan gamang menghadapi beban utang. Akibatnya, sikap dan wacana Sri Mulyani itu, melahirkan kegaduhan baru di kalangan publik.

Jangan lupa, ketika era Presiden SBY, Sri Mulyani mempertabal utang negara dengan beban bunga yang sangat besar melalui penjualan obligasi negara, atau Surat Utang Negara (SUN).

Sekitar 2010 ketika Sri Mulyani mengundurkan diri, mewariskan utang yang cukup besar. Kala itu, utang luar negeri bertambah Rp275 triliun menjadi Rp1.588 triliun.

Pada 2008, Indonesia pernah menerbitkan global bond dengan yield yang cukup menjulang, yakni 6,95%. Angka ini lebih tinggi ketimbang Malaysia sebesar 3,86%, Thailand 4,8% bahkan Filipina 6,5%. Setahun kemudian, pemerintah menerbitkan global bond dengan yield 11,75%. Jauh di atas Filipina 8,75%. Dan hanya sedikit kalah dari negara yang kesehariannya diguncang teror bom yakni Pakistan sebesar 12,5%.

Tak berhenti di situ. Data 5 tahun terakhir menunjukkan, utang pemerintah mengalami lonjakan signifikan. Ingat bait lagu ketika kita masih kanak-kanak? Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.

Pada 2011, total utang pemerintah mencapai Rp.1.808 triliun. Kemudian meningkat pada 2012 menjadi Rp1.977 triliun. Tahun berikutnya mendaki lagi menjadi Rp2.375 triliun. bengkak Rp2.608 triliun pada 2014.

Pada 2015 naik menjadi Rp3.362 triliun. Kini, Sri Mulyani kembali bercokol di pemerintahan Jokowi-JK, menjadi ‘panglima’ keuangan negara. Harapan besar itu kini menjelma menjadi utang besar.

Suasana perekonomian dikhawatirkan bakal terseok-seok. Rakyat mulai dikejar-kejar pajak, kenaikan harga dan tarif. Sementara, pendapatan tak naik bahkan banyak perusahaan tutup. Apalagi kalau nilai ekspor Indonesia terus merosot. Semuanya muncul gara-gara utang. (RFN)