Laba bersih AALI naik tipis 0,2% dari Rp 2 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp 2,01 triliun di tahun 2017 kemarin. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Memang, kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) boleh dibilang kendur pada tahun 2017 lalu, itu betul. Sebab, banyak setumpuk tantangan yang acap kali membayangi industri perkebunan. Tunggu dulu, belakangan sejumlah masih yakin betul bahwa kinerja AALI bakal moncer di tahun ini.

Lihat saja rekam jejaknya, tercatat laba bersih AALI naik tipis 0,2% dari Rp 2 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp 2,01 triliun di tahun 2017 kemarin. Pun analis Senior Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio memberikan penilaiannya, kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 26% year on year (yoy) menjadi Rp 13,16 triliun membuat laba bersih AALI cukup tergerus.

Selain itu, Joni Wintarja analis NH Korindo Sekuritas juga menambahkan, membengkaknya beban pajak penghasilan sebesar 773,15% yoy juga menjadi penyebab rendahnya laba bersih AALI. Kondisi makin pelik lantaran harga crude palm oil (CPO) hanya naik tipis 2% sepanjang tahun lalu ke level Rp 8.655 per kilogram.

Jangan khawatir, kendati begitu penjualan AALI masih kebilang bagus. Peningkatan penjualan sebesar 22,5% yoy menjadi Rp 17,30 triliun pada tahun 2017 lalu, tidak buruk-buruk amat. Wajar, Joni pun optimistis betul masih ada ruang bagi AALI untuk meningkatkan kinerjanya di tahun ini.

Joni bilang, cuaca yang berpotensi lebih bersahabat bisa membuat produksi tandan buah segar (TBS) AALI naik 7% menjadi 5,6 juta ton. Pun Joni memprediksikan, penjualan AALI bisa tumbuh 14,3% menjadi Rp 19,77 triliun pada akhir tahun nanti. Lantas, laba bersihnya berpotensi menanjak 11,3% menjadi Rp 2,23 triliun.

Selain itu, AALI juga tetap melakukan ekspansi bisnis pada tahun ini. Salah satunya, dengan bakal berdirinya pabrik kelapa sawit baru di kawasan Kalimantan Selatan. Meski pun pabrik itu baru, tetap saja akan beroperasi pada tahun 2019 dan pabrik tersebut berpotensi menambah kapasitas produksi perusahaan.

Menyola pabrik baru tadi, analis senior Henan Putihrai Yosua Zisokhi mengingatkan, tanpa adanya penambahan lahan, kehadiran pabrik baru hanya akan mengurangi beban produksi AALI saja.

Setumpuk Tantangan

Di tahun ini, AALI juga meski menghadapi sejumlah tantangan. Sebut saja, salah satunya ancaman terhambatnya ekspor CPO ke kawasan Uni Eropa serta sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat juga India.

Sebab, hal tersebut juga dapat mengurangi permintaan CPO milik AALI. Dan rendahnya permintaan berpotensi membuat harga CPO di pasar sulit meningkat. “Padahal, kinerja AALI tahun ini sangat bergantung pada kestabilan harga CPO,” ujar Joni, Senin (19/3).

Tapi, menurut penilaian Yosua, permintaan CPO masih bakal solid. Pasalnya, negara-negara yang membatasi ekspor CPO dari Indonesia tidak bisa terus-terusan memanfaatkan bahan bakar nabati lain seperti minyak kedelai atau minyak bunga matahari, pada saat masa panennya berakhir.

Sementara, Bertoni pun merekomendasikan akumulasi beli saham AALI dengan target harga Rp 15.000. Lalu Yosua dan Joni merekomendasikan beli saham AALI. Yosua memasang target Rp 17.200 per saham. Sementara Joni mematok harga Rp 18.375 per saham.  (RFN)