Kendati tergerus, jumlah cadangan devisa tersebut masih dapat digunakan di atas standar kecukupan internasional, sekitar pembiayaan tiga bulan impor. (Foto-dok:Istimewa)

BINATANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Suka atau tidak, agar stabilitas kurs rupiah tetap terjaga juga pembayaran utang luar negeri pemerintah pun terpenuhi. Hal itu berdampak tergerusnya cadangan devisa sebesar US$2,06 miliar, menjadi US$126 miliar di bulan Maret 2018.

Seperti dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Senin (9/4). Posisi cadangan devisa 126 miliar dolar AS masih cukup tinggi, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2018 yang sebesar 128,06 miliar dolar AS.

Kendati tergerus, jumlah cadangan devisa tersebut masih dapat digunakan di atas standar kecukupan internasional, sekitar pembiayaan tiga bulan impor. Adapun jumlah cadangan devisa per Maret 2018 setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu, Bank Sentral memandang cadangan devisa tetap memadai seiring dengan terjaganya keyakinan terhadap prospek perekonomian domestik yang membaik dan kinerja ekspor yang tetap positif.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara bilang, Bank Sentral memang menyerap sedikit cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah melalui intervensi di pasar keuangan.

Hal ini karena volatilitas nilai tukar rupiah, menyusul tekanan ekonomi dari pasar keuangan global menjelang kenaikan suku bunga Federal Reserve saat 21 Maret 2018 lalu.

“Jadi pada waktu Februari cadangan devisa digunakan sedikit. Maret digunakan sedikit. Tapi setelah pengumuman dari Fed sekitar 21 Maret. Pasar stabil,” kata Mirza.

Mirza yakin betul, bahwa gejolak eksternal terhadap kurs rupiah bakal mereda. Alhasil, BI tidak perlu lagi melakukan stabilisasi rupiah ke pasar finansial di April 2018.

“Sejak 21 Maret 2018 situasi stabil sampai sekarang pekan pertama April. Jadi BI di bulan April ini tidak perlu masuk di pasar untuk lakukan stabilisasi,” ujar Mirza. (RFN)