Bintangtimur.id-Jakarta. Ada kabar gembira dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Tahun 2016 lalu, investasi dari China tercatat melonjak tajam.

Dan saat ini, pun Negeri Panda itu menduduki peringkat empat besar dalam investasi di Indonesia. Dari data BKPM, diketahui realisasi investasi China sepanjang semester I-2016 saja telah mencapai US$ 1,01 miliar. Jelas, angka ini adalah lonjakan yang drastis, dari US$ 160,27 juta pada periode sama tahun lalu.

Kendati angka yang muncul relatif kecil, realisasi investasi selama paruh pertama tahun 2016 lalu itu, menunjukkan bahwa investor China baik swasta maupun BUMN  tampak kian serius.

Negeri itu bahkan menyalip posisi Korea Selatan dan Amerika Serikat. Korsel dan AS pada paruh pertama tahun lalu masuk dalam lima besar negara dengan realisasi investasi terbesar, sedangkan China di peringkat 9. Belakangan, China langsung melesat ke posisi 4 besar.

Dilalahnya, bersamaan dengan peningkatan peringkat, isu lama kembali bergaung. Menurut si empunya cerita, investasi China akan membawa efek negatif karena disertai membanjirnya tenaga kerja dari negeri Tirai Bambu itu. Konon, ada sekitar10 juta orang yang masuk ke negeri ini gara-gara salah satu syarat investasi China itu, yakni diperbolehkannya tenaga kerja mereka berkarya di Indonesia.

Informasi inilah yang ‘membakar’ sebagian kalangan, tentunya. Tak pelak, banyak kalangan menilai, pemerintah tidak bijak dalam bertindak. Pun api semakin membesar tatkala di temukan tenaga kerja asing (TKA) ilegal alias tanpa izin resmi masuk ke negeri ini.

Betapa tidak? Di Indonesia saja masih banyak pengangguran, yang jumlahnya mencapai 7 juta orang. Belum lagi, jutaan pengangguran lainnya yang tidak kentara,

Perbicangan publik mengenai ‘invasi’ China melalui perekonomian sudah kerap terdengar, dan seolah mendapatkan momentumnya dengan dimulainya beberapa proyek kerjasama Indonesia-China yang mendatangkan tenaga kerja dari negeri itu.

Kita melihat, beberapa proyek yang terkait dengan sektor energi pembangunan pembangkit listrik serta proyek kereta cepat Jakarta – Bandung adalah sektor investasi yang paling banyak disorot publik sebagai pintu masuk tenaga kerja China.

Tentu saja, isu lama yang berdasarkan hoax itu menyulut emosi Presiden Jokowi. Ia geram dan meminta pihak kepolisian untuk mengusut dan menindak para pelaku penyebar isu terkait. “Itu urusannya polisi. Hal yang meresahkan seperti itu memang harus ditindak,” kata Jokowi.

Seperti tahun lalu, Jokowi mengatakan, angka 10 juta itu adalah target wisatawan dari China yang masuk ke Indonesia. Sedangkan tenaga kerja asal China yang ada di Indonesia saat ini hanya berjumlah 21.000 orang. “Kalau enggak punya data jangan menyampaikan dong, namanya itu kan membohongi masyarakat dan bisa meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Jokowi, jumlah itu masih sangat kecil dibandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara lain. Di Malaysia misalnya, TKI mencapai 2 juta orang. Adapun di Hongkong mencapai 153.000 orang.  “Hitungan kita 21.000 itu sangat kecil sekali. Jangan ditambahi nol terlalu banyak,” ucap Jokowi.

Secara logika pun tidak mungkin banyak tenaga kerja dari China, Amerika dan Eropa yang mau bekerja di Indonesia. Sebab, gaji di negara tersebut jauh lebih baik ketimbang di Indonesia. “Mana mau mereka ke sini dengan gaji yang lebih kecil. Ini saya sampaikan agar jangan sampai rumor berkembang dimana-mana,” tegasnya.

Jelas? Oke, kita lihat di tahun-tahun berikutnya, apakah isu lama ini akan ‘diputar ulang’?