BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Memasuki tahun politik, diprediksi ekonomi pemerintahan Jokowi-JK bakal makin berat. Lihat saja, sudah tiga tahu pertumbuhan ekonomi dan realisasi pajak acap kali gagal dari target. Kini, sorotan pun datang dari kalangan anggota Dewan.

Anggota Komisi XI DPR-RI Willgo Zainar, tampaknya merasa pesimis dengan perekonomian 2018 yang di klaim oleh sejumlah menteri ekonomi Kabinet Kerja, bakal jauh lebih baik. “Ingat, tiga tahun pemerintahan Pak Jokowi, belum pernah mencapai target. Baik dari sektor pertumbuhan maupun pajak. Walalupun grafiknya memang ada peningkatan,”ujar Willgo kepada media di Jakarta, (8/2).

Nah, menyoal pencapaian pajak 2017, misalnya, dari catatan Willgo perolehan pajak di tahun itu hanya tembus 89,8% dari target sebesar Rp1.283,6 triliun. Sementara itu , pertumbuhan ekonomi di tahun 2017, pun hanya mampu bertengger diangka 5,07%, itu saja masih kurang dari target sebesar 5,2%. “Padahal, asumsi pertumbuhan sudah dirubah dua kali. Itu pun masih gagal juga,” kata Willgo.

Bila selama 3 tahun ini, rapor perekonomian Jokowi merah terus. Lantas, bagaimana dengan tahun ini? Jebolan Master Business Administration of Marketing and International, Amstrong University Berkley itu, bahkan mengaku pesimis. ”Agak sulit mencapai target pertumbuhan 5,4% serta target pajak Rp 1.423,9 triliun. Dimana target pajak naik 20 persen,” ujar Willgo.

Masuk tahun politik, pun Willgo mengingatkan soal faktor eksternal dan internal yang akan menyulitkan pergerakan ekonomi. Faktor eksternal, misalnya, reformasi pajak di Amerika Serikat (AS), dikhawatirkan mendorong arus dana keluar serta penundaan investasi. “Belum lagi mamanasnya Semenanjung Korea, Palestina, dan sebagainya. Faktor eksternal ini harus menjadi concern pemerintah,” ujarnya.

Dan menyoal masalah internal, Willgo menjelaskan, banyaknya petahana yang maju di pilkada serentak. Kondisi ini akan berdampak kepada macetnya sejumlah perizinan investasi. Karena, birokrasi akan fokus kepada pilkada. “Tentunya, pengusaha akan memilih untuk wait and see,” jelasnya.

Lantas, untuk mendorong perekonomian, kata Willgo, pemerintah perlu memperkuat peningkatan daya beli. Wajar apabila pemerintah menyiapkan dana besar dari APBN 2018 untuk stimulusnya. Tahun ini, pemerintah melakukan stimulus berbentuk bansos yang menyedot 25 persen dari APBN 2018.

Willgo mengingatkan sepinya sektor riil alias dunia bisnis. Hal itu tercermin dari landainya pergerakan kredit perbankan. Itu gejala, bahwa pertumbuhan pengusaha baru tidak berjalan. Bahkan, pengusaha lama banyak yang gulung tikar. “Untuk bisa bertahan atau survival, sudah sangat luar biasa berat,” paparnya.

Beratnya di sektor bisnis ini, kata Willgo, jangan sampai kembali dibebani dengan tingginya pungutan pajak. Kalau itu yang terjadi, dikhawatirkan perekonomian bisa semakin berantakan. “Silahkan ambil telurnya tapi jangan matikan ayamnya,” pungkas Willgo. (RFN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here