Ilustrasi (Ilustrasi-dok: Arief Nazarudin)

Bintangtimur. News, Jakarta Setelah mengalami kenaikan pada beberapa pekan kemarin, akhirnya harga minyak mentah limbung juga. Belakangan, para ahli strategi di sektor ini mengamati dengan cermat betul goyangan harga minyak mentah. Terlebih, menjelang  bakal di gelarnya pertemuan OPEC pada pekan depan.

Kendati ada ketegangan politik dan itu melibatkan negara Arab sebagai superpower, belum lagi OPEC berjanji bakal memangkas produksi. Menilik hal itu, cruedprice disinyalir bisa turun pada akhir tahun ini, menurut seorang ahli strategi. Lantas, apa alasannya.

“Ketegangan di Arab Saudi masih memanas setelah tindakan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman,” ujar CEO Chantico Global Gina Sanchez pada hari Senin di “Trading Nation” CNBC, merujuk pada gejolak politik yang luas di kerajaan awal bulan ini yang pada awalnya mendorong minyak harga.

Namun tidak mungkin, sebab ini merupakan “peristiwa geopolitik yang sebenarnya,” kata Sanchez, dan harga minyak harus terus berlanjut.

Lantas, Sanchez berani mematok target harga minyak mentah di level US$52,60 per barel pada akhir tahun nanti. Walau pun, dia memperkirakan ayunan volatilitas di sepanjang jalan, bersamaan dengan “lonjakan” sesekali dibarengi dengan ketegangan di tingkat regional yang meningkat.

Lihart saja, kini minyak mentah West Texas Intermediate  ditutup melemah pada Senin, pekan lalu. Tak ayal, fenomena itu sebagai sinyal pada pekan pertama perdagangan setelah kenaikan lima minggu berturut-turut dan minyak terus diperdagangkan pada kisaran pertengahan US$50 per barel. (RF)