Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengungkapkan, secara total kemajuan pembangunan proyek 35.000 MW sudah mencapai 30%-40%. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Bicara menyoal Mega Proyek listrik 35.000 MW, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignatius Jonan pun menegaskan, pelaksanaan proyek ketenagalistrikan 35.000 MW sudah sesuai harapan. Boleh diartikan, optimis bakal mencapai target.

Total yang sudah Commercial Date Operation (COD) atau beroperasi mencapai 1.362 MW. Di luar itu, sejumlah 17.116 MW masuk tahap konstruksi dan sebagian besar telah kontrak.
(Foto-dok:Istimewa)

Saat ini, pembangkit yang menghasilkan listrik sebesar 20.000 MW, siap dioperasikan pada 2019, nanti. Sedangkan, sisanya yang 15.000 MW bakal rampung dan beroperasi pada tahun 2024-2025, mendatang.

Jonan bilang, bahwa publik menaruh harapan besar terhadap mega proyek ini. Pun dia mengingatkan, bahwa membangun pembangkit skala besar, tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Bisa terlaksana dalam sekejab. Diperkirakan perlu waktu tiga tahun untuk beroperasi dari masa konstruksi.

Semenjak dicanangkan pada pertengahan 2015, total yang sudah Commercial Date Operation (COD) atau beroperasi mencapai 1.362 MW. Di luar itu, sejumlah 17.116 MW masuk tahap konstruksi dan sebagian besar telah kontrak. Hanya sebagian kecil, atau 13% saja yang masih dalam tahap pengadaan atau perencanaan. “Yang dalam tahap konstruksi tetap berjalan. Tidak ada masalah,” ujar Jonan.

Tampaknya, Jonan optimis betul, total pembangkit listrik sebanyak 20.000 MW sudah dapat beroperasi pada 2019. “Tambahan kapasitas sebesar itu sudah cukup untuk menjawab peningkatan kebutuhan listrik di tahun 2019,” kata Jonan.

Jonan pun mengemukakan alasannya, mengapa program 35.000 MW itu harus selesai 2019, dibuat dengan berdasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi nasional di atas 7 persen. Padahal, realisasi pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir dan beberapa tahun ke depan diperkirakan sekitar 5 persen. sehingga peningkatan tambahan kebutuhan listrik hingga tahun 2019, berkisar 20.000 MW. Selebihnya, akan beroperasi pada 2024-2025, seiring pertumbuhan kebutuhan listrik.

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengungkapkan, secara total kemajuan pembangunan proyek 35.000 MW sudah mencapai 30%-40%. “Kalau ditanya 35.000 MW sudah selesai dalam dua tahun pasti saya berbohong. Tapi, kalau berbicara progress pembangunnnya, sudah sesuai rencana yaitu 30 sampai 40 persen,” kata Sofyan.

Terkait hal itu, Sofyan pun merinci, estimasi masa pembangunan pembangkit. Untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memakan waktu sekitar 5-6 tahun, panas bumi (PLTP) 5-6 tahun, pembangkit listrik di atas 600 MW mencapai 6 tahun. Sedangkan yang di bawah 600 MW dan 300 MW membutuhkan waktu 3 tahun. “Yang lebih cepat itu (pembangkit) gas bisa 8 bulan sampai 1 tahun,” papar Sofyan.

Informasinya, salah satu bukti kemajuan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTU Jawa 10 dengan total kapasitas 4.000 MW yang baru diresmikan Presiden Jokowi pada 5 Oktober 2017. Selain itu, ada juga PLTU Jawa I di Cilacap yang progressnya mencapai 37%.

Di samping program 35.000 MW, pemeritah juga tengah menyelesaikan proyek 7.000 MW sebagai kelanjutan Fast Track Program (FTP) I, FTP II dan Regular. Hingga Januari 2018 total sebanyak 6.424 MW atau sekitar 82 persen sudah bisa beroperasi, dan hanya 1.407 MW atau 18 persen yang masih tahap konstruksi. (RFN)