Ilustrasi-BBM Premium di konsumsi mobil mewah. (Ilustrasi-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Sebelum dibubarkan pada Rabu (13/5/2015) silam, Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) pernah merekomendasikan agar bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di hapus. Kini, mantan anggota TRTKM Fahmy Radhi kembali mendesak pemerintah segera menghapus premium. Sebab, penggunaan premium juga tidak ramah lingkungan yang menghasilkan polusi sekaligus dapat memicu kanker. Ya, selain potensial dijadikan bancakan para mafia migas tentunya.

Fahmy bilang, BBM oktan rendah yakni premium, rawan dimanfaatkan para pemburu rente untuk meraup keuntungan. Itu pula yang menjadi dasar Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan penghapusan premium, sesaat sebelum dibubarkan pada bulan Mei 2015.

“Makanya, Premium harus dihapuskan. Semakin cepat semakin baik,” kata Fahmy di Jakarta, Rabu (14/3).

Asal tahu saja, kala itu, manajemen PT Pertamina (Persero) menyetujui penghapusan premium dalam waktu dua tahun. Namun setelah tiga tahun, rupanya premium masih saja beredar di pasaran.

Fahmy menjelaskan, dari hasil temuan tim, terdapat dua tempat yang rawan memunculkan mark up. Pertama, pada saat proses bidding, yaitu pengadaan (lelang). Kedua, pada saat proses blending (pencampuran). Potensi itu sangat masuk akal lantaran BBM oktan 88 tidak dijual di pasar internasional. Dampaknya, untuk memproduksi Premium harus dilakukan melalui proses pencampuran BBM oktan yang lebih tinggi.

“Selain itu, karena tidak dijual di pasar internasional, maka sama sekali tidak ada acuan harga untuk Premium. Ini berbeda dengan Pertamax atau Pertalite saat ini, yang punya harga acuan, sehingga kalau di-mark up akan ketahuan,” jelas Fahmy.

Selain memang, dilantarankan hasil temuan Tim TRTKM, desakan Fahmy itu juga didasarkan atas faktor lingkungan dan kesehatan. Terkait faktor lingkungan, Fahmy mengingatkan komitmen Presiden pada Conference of Parties 21 Paris pada 2015. Di mana, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% di bawah business as usual pada 2030, atau 41% dengan bantuan internasional.

Sebagai catatan saja, Hal itu juga tak lepas dari hasil penelitian bersama antara Universitas Indonesia (UI) dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB). Hasil penelitian itu menyatakan, bahwa emisi BBM oktan rendah bisa menjadi pemicu penyakit mematikan, yaitu kanker.

“Semua itu semakin menguatkan desakan untuk segera menghapus Premium secepatnya,” tegas Fahmy.

Fahmy meyakini betul, bahwa penghapusan Premium tidak akan memunculkan resistensi pada masyarakat, terutama di Jawa, Madura, dan Bali. Apalagi menurut pengamatannya, migrasi konsumen dari premium ke BBM oktan tinggi, ternyata dilakukan atas kesadaran sendiri. Bahkan di berbagai SPBU, lanjut dia, terlihat begitu banyak sepeda motor yang antre Pertamax, bukan lagi pertalite.

“Makanya patut dicurigai, jika ada yang mengatasnamakan rakyat demi mempertahankan Premium. Saya mengindikasi, mereka memiliki kepentingan atas Premium,” ujar mantan anggota TRTKM itu.

Di tempat terpisah, Koordinator Inodnesia Energy Watch (IEW) Adnan Rarasina pun mendesak pemerintah untuk menghapus BBM oktan rendah. Jika tidak dihapuskan, maka yang menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri.

“Pemerintah jangan membodohi masyarakat. Kasihan, kendaraan mereka akan rusak. Pemerintah harus terbuka, bahwa BBM oktan rendah tidak cocok untuk mesin sekarang,” kata Adnan.

Adnan juga bilang, seharusnya Pemerintah melihat bahwa hampir semua Negara telah menghapuskan BBM oktan di bawah 90, kecuali untuk keperluan terbatas, seperti militer dan kendaraan keluaran tua. Bahkan Filipina dan Vietnam, juga sudah meninggalkan BBM berkualitas rendah tersebut.

Terkait hal itu, Adnan menduga, bahwa sikap Pemerintah yang masih mempertahankan BBM RON 88, karena masih kuatnya keberadaan para mafia. Mereka tentu tidak rela, jika lahan bisnis yang subur akan dihabisi.

“Harusnya bersihkan saja sekalian sarangnya. Dulu Pemerintah sukses ketika konversi minyak tanah ke gas, dimana minyak tanah pun diduga menjadi sarang mafia. Lantas, mengapa sekarang seperti setengah hati?” tanya Adnan. (RFN)