PLN terus mengupayakan pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah Indonesia Timur (Intim). Saat ini, beban puncak sistem Ternate-Tidore mencapai 32,49 MW, sedangkan daya mampu 59,3 MW. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – PT PLN (Persero) kabarnya bakal mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) di Ternate, Maluku Utara, berkapasitas 30 megawatt (MW). Kali ini, dengan dioperasikannya PLTMG sebesar 30 megawatt itu dapat mendukung akses listrik untuk Kawasan Indonesia Timur.

Kepala Satuan Komunikasi Korporat I Made Suprateka di Jakarta, Minggu (18/3/2018), mengatakan, pembangkit bergerak (mobile power plant/MPP) yang masuk program 35.000 MW tersebut, telah memenuhi pasokan listrik sistem Ternate-Tidore.

“Pembangkit MPP dengan mesin gas ini merupakan jenis, yang pembangunannya tergolong cepat. Hanya membutuhkan waktu 6-7 bulan saja. PLTMG Ternate ini, konstruksinya rampung Oktober 2017, setelah kontrak pembangunan efektif April 2017,” ujar Suprateka.

Lantas, Menurut Suprateka, setelah konstruksi pembangkit selesai, tahapan selanjutnya adalah menguji beban sebelum dinyatakan layak beroperasi. Dari empat unit mesin pembangkit, tiga di antaranya memperoleh sertifikat laik operasi (SLO pada Desember 2017). Sedangkan satu sisanya pada Februari 2018.

PLTMG Ternate menggunakan mesin berbahan bakar ganda yakni gas alam cair (liquid natural gas/LNG) dan minyak.

Suprateka bilang, PLN terus mengupayakan pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah Indonesia Timur (Intim). Saat ini, beban puncak sistem Ternate-Tidore mencapai 32,49 MW, sedangkan daya mampu 59,3 MW.

“Hal ini berarti terdapat cadangan daya 45 persen untuk sistem Ternate Tidore,” kata Suprateka.

Program 35.000 MW yang dikerjakan pemerintah adalah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mendorong munculnya kawasan industri baru. Bagi PLN, program 35.000 MW, sangat efektif terutama dalam mengatasi defisit pasokan daya.

Dengan tambahan pembangkit baru, menurut Suprateka, akan semakin membuat pasokan listrik lebih andal. Lebih dari itu, program 35.000 MW juga bertujuan pemerataan pemenuhan listrik di seluruh Indonesia, sehingga mampu menaikkan angka rasio elektrifikasi nasional menjadi 97% pada 2019. (RFN)