Jika dihitung,formula harga yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Preisden No.191/2014 Tentang Penyedian, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM, maka harga premium seharusnya sudah mencapai Rp 8.600 per liter untuk April–Juni 2018. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Memang, keputusan pemerintah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan Solar punya konsekuensi, itu betul. Lantaran hal itulah, PT Pertamina (Persero) pun mengaku berpotensi kehilangan pendapatan dari kedua jenis BBM itu sebesar Rp 3,49 triliun. Apalagi, belakangan harga minyak dunia saat ini sudah menembus US$ 60 per barel, jauh di bawah harga pada asumsi anggaran 2018 yang hanya sebesar US$ 48 per barel.

Bila saja diakumulasikan, potensi kehilangan pendapatan Pertamina selama Januari-Desember 2018 tembus sebesar Rp 24 triliun. Sebab, salah satu faktornya, ialah kenaikan konsumsi premium dan solar pada tahun ini naik hingga 5% sampai 7% per bulan.

Lantas, agar Pertamina tak kehilangan potensi pendapatan itu harga premium dan solar harusnya naik pada periode April-Juni 2018.

Direktur Pemasaran Pertamina M. Iskandar menjelaskan, dari hitungan Pertamina untuk Januari-Februari 2018, potensi kehilangan pendapatan akibat menanggung selisih harga solar dan premium baik di luar Jawa-Madura-Bali (Jamali) maupun wilayah Jamali sebesar Rp 3,9 triliun.

“Untuk solar dan premium penugasan (luar Jamali) selama Januari-Februari (potensi kehilangan pendapatannya) sudah Rp 3,49 triliun. Tambah premium untuk Jamali Rp 3,9 triliun,” jelas Iskandar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Direktur Jenderal Migas dan Komisi VII DPR RI pada Senin (19/3).

Iskandar bilang, apalagi konsumsi untuk BBM jenis penugasan seperti premium dan solar berpotensi naik selama libur Lebaran yang jatuh pada bulan Juni 2018. “Pada saat Lebaran premium naik 7% dari bulan biasa,” jelasnya.

jika dihitung, menurut Iskandar, dengan formula harga yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Preisden No.191/2014 Tentang Penyedian, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM, maka harga premium seharusnya sudah mencapai Rp 8.600 per liter untuk April–Juni 2018.

Sedangkan premium saat ini masih dijual Rp 6.450 per liter. “Ini berarti telah ada selisih harga sebesar Rp 2.150 per liter,” kata dia.

Sementara itu, untuk BBM jenis solar, dengan formula harga seharusnya harga solar saat ini sebesar Rp 8.350 per liter. Saat ini, solar masih dijual di harga Rp 5.150 per liter. Ini berarti ada selisih harga Rp 3.200 per liter. (RFN)