Iklim investasi migas di Indonesia akan semakin tidak kondusif dengan ditetapkannya Pertamina secara otomatis sebagai operator blok migas terminasi. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Kabarnya, pemerintah bakal memutuskan soal pembagian porsi pengelolaan kedelapan blok terminasi yang berakhir pada tahun ini. Ya, blok terminasi itu akan diserahkan kepada Pertamina sebagai pengelola dan mitra yang dipilih.

Nah, menanggapi persoalan itu, Anggota Komisi VII DPR-RI Kardaya Warnika angkat bicara. Menurut Kardaya, ada yang salah dengan mekanisme penugasan Pertamina sebagai operator blok terminasi. Sebab, Politisi asal Partai Gerindra itu meyakini betul, bahwa hal itu bakal menggangu iklim investasi di sektor hulu migas.

Belum lagi, Direktorat Jendera Migas Kementerian ESDM melansir ada 26 blok migas yang bakal habis kontraknya mulai 2018 hingga 2026.

“Ada dua penyebab lain seperti kapasitas minyak yang sudah habis dan iklim investasi yang tidak menarik,” kata Kardaya di Jakarta, Sabtu (7/4).

Mantan Staf Ahli Menteri Energi Sumber Daya Mineral di tahun 2003 itu bilang, iklim investasi migas di Indonesia akan semakin tidak kondusif dengan ditetapkannya Pertamina secara otomatis sebagai operator blok migas terminasi.

Pasalnya, kata pria sempat menjabat sebagai Wakil Indonesia untuk OPEC (1999-2001) itu, bahwa KKKS memerlukan kepastian hukum sebelum memutuskan untuk menanamkan investasi berjumlah besar yang baru akan balik modal dalam jangka panjang.

“Ini masih menjadi masalah ditambah lagi revisi Undang-Undang (UU) Migas masih belum jelas, akibatnya investor menunggu dan bisa beralih ketempat lain,” ujar Kardaya.

Selain itu, Kardaya juga menambahkan, penunjukkan Pertamina sebagai operator blok terminasi juga berpotensi merugikan BUMN tersebut.

“Kalau ternyata gagal mengelola blok tersebut, tentu akan mengganggu kinerja perseroan. Seharusnya mereka bisa menolak dan melakukan kajian dulu jika ditawarkan sebagai operator. Tapi kan sebagai BUMN, Pertamina mau tidak mau harus menerima perintah dari pemerintah,” pungkas Kardaya. (RFN)