Ilustrasi-Pengeboran sumur minyak Indonesia. (Ilustrasi-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Kabarnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) mulai resah terkait cadangan minyak dan gas Indonesia yang boleh dibilang, cukup mengkhawatirkan, memang. Sebab, sejak tahun 1892 hingga sekarang, penemuan cadangan minyak paling besar sekaliber lapangan Minas dan Duri dengan total cadangan mencapai 9 miliar barel, tak lagi diketemukan.

“Ini yang mengkhawatirkan juga buat kita, ini penemuan cadangan migas, kita lihat 1892 itu yang kita temukan cadangan minyak yang besar itu Duri dan Minas, itu (penemuan) tahun sebelum kita merdeka,” kata Sekrtaris SKK Migas, Arief S. Handoko dalam sebuah diskusi emiten sektor energi di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (16/4).

Arief bilang, pada era tahun 90-an, penemuan cadangan minyak yang ditemukan tak pernah sebesar cadangan minyak yang berada dilapangan Minas dan Duri.

“Kita lihat dari tahun 90-an saja, penemuan lapangan minyak seperti Banyu Urip, jika dibandingakn Minas dan Duri jauh banget, Lapangan minyak Abadi punya Masela juga tidak lebih banyak, lainnya tidak ada,” kata Arief.

Kendala utama persoalan ini, kata Arief, adalah biaya investasi eksplorasi yang cukup besar, sehingga penemuan-penemuan cadangan lapangan minyak juga tidak menjadi optimal.

Arief juga menekankan, tugas pemerintah ke depan adalah bagaimana menyentuh potensi migas RI, terutama yang berlokasi di Indonesia timur. Ini, adalah tugas utama pemerintah dalam menjalankan kebijakan di masa depan.

Pun pemerintah, Arief menambahkan, terus melakukan perubahan rezim kontrak migas dari Cost Recovery ke rezim Gross Split yang diharapkan menjadi solusi yang efisien untuk menggiatkan kembali kegiatan eksplorasi migas nasional. (RFN)