PGN wajib membayar kepada Pertamina sebesar Rp16,60 triliun untuk 51% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor dalam Pertagas. (Foto-dok: Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Ada kabar, pelunasan pembayaran akuisisi saham PT Pertamina Gas (Pertagas) oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) masih belum dapat terealisasi. Padahal, awalnya PGN menargetkan, pelunasan itu selesai 90 hari sejak perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement/CSPA) dengan PT Pertamina (Persero) diteken 29 Juni 2018 silam.

Asal tahu saja, di dalam perjanjian tersebut, PGN wajib membayar kepada Pertamina sebesar Rp16,60 triliun untuk 51% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor dalam Pertagas. Cara pembayaran transaksi dilakukan secara lunas dengan cara pembayaran akan disepakati para pihak dan menjadi bagian dari Persyaratan Pendahuluan.

Nah, jika merujuk pada CSPA, penyelesaian akan dilakukan pada tujuh hari kerja setelah tanggal diterimanya Berita Acara Pemenuhan Persyaratan  Pendahuluan yang ditandatangani Para Pihak. Namun, hingga kini belum bisa terlaksana.

Lantas, Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama mengungkapkan, meski terdapat tenggat waktu penyelesaian sebagaimana tertera pada CSPA, tapi administrasi untuk transaksi masih membutuhkan proses. Hal itu, katanya, terkait penyelesaian beberapa poin dalan CSPA antara Pertamina dan PGN.

“Keduanya mempunyai ruang menentukan tanggal atau tempo penyelesaian, karena masih terdapat hal-hal administratif yang perlu diselesaikan baik oleh Pertamina maupun PGN,” kata Rachmat berdasarkan keterangan resminya, Senin (1/10).

Rahmat bilang, sejauh ini persoalan pendanaan juga telah rampung disusun Perseroan. PGN juga membantah, bahwa belum selesai pelunasan itu lantaran terkendala keuangan perusahaan. Manajemen PGN telah menyiapkan dana internal untuk proses akuisisi tersebut.

“Untuk dana kami sudah tidak ada masalah, intinya tempo penyelesaian CSPA yang nanti disepakati Pertamina dan PGN tidak menyangkut persoalan yang substansial, hanya proses kelengkapan administrasi terhadap akuisisi Pertagas,” ujar Rachmat.

Sekedar informasi, kala penandatanganan CSPA Juni lalu, Rachmat menargetkan transaksi selesai September 2018.

“Sesuai dengan CSPA, transaksi akan diselesaikan dalam 90 hari ke depan,” Kata Rahmat.

Akuisisi Pertagas merupakan bagian dari pembentukan induk usaha (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pembentukan holding BUMN Migas ini dimulai dari pengalihan saham seri B milik Negara di PGN ke Pertamina melalui inbreng. Ini mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2018 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan PT Pertamina.

Belakangan, PGN meyakini betul, pengambilalihan Pertagas akan secara langsung memberikan nilai tambah strategis dan diharapkan dapat meningkatkan daya saing. Transaksi ini juga akan memberikan manfaaat yang signifikan bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan serta menegaskan komitmen Perseroan untuk berkontribusi pada pembangunan nasional.

Salah satunya, yaitu manfaat bagi perseroan yaitu memperkuat posisi sebagai badan usaha yang terdepan di bidang transmisi dan distribusi gas bumi. Sekaligus menambah portofolio investasi Perseroan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here