Dalam catatan Budyatna, laba bersih PGN itu terus melorot selama kurun waktu 2012 hingga 2017. (Foto-dok: Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta – Tak tanggung-tanggung, dalam kurun lima tahun belakangan ini ternyata laba bersih PT Perusahaan Gas Negara (Persero) anjlok mencapai 87,64%. Tak ayal, hal tersebut menjadi sorotan sekaligus mengundang tanda tanya besar bagi Guru Besar UI Profesor Dr M. Budyatna.

Bahkan, dalam catatan Budyatna, laba bersih PGN itu terus melorot selama kurun waktu 2012 hingga 2017. Pada 2012, misalnya, perusahaan gas plat merah itu meraup keuntungan US$890 juta, setahun kemudian turun menjadi US$804 juta. Sedangkan sepanjang 2014-2016, laba bersih PGN terus menyusut. Masing-masing angkanya US$711 juta, US$401 juta, dan US$304 juta. Sedangkan laba bersih 2017, diperkirakan tinggal US$110 juta.

“Sangat berbahaya! PGN adalah badan usaha milik negara. Mengapa tidak terdeteksi sejak awal? Kalau turun hanya satu tahun lalu naik lagi tidak mengapa. Tetapi ini terus menerus dengan angka penurunan yang fantastis,” kata Budyatna dalam rilis kepada media di Jakarta, Rabu (7/2).

Lantas, kondisi berbeda diperlihatkan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor yang sama yakni PT Pertamina Gas (Pertagas). Sejak 2012-2017, laba bersih Pertagas cenderung relatif stabil.

Dan selama periode tersebut, justru laba bersih Pertagas malah naik 16,67%, yakni US$120 juta (2012) dan US$140 juta (2017). Bahkan pada 2018, laba bersih Pertagas sudah melampaui PGN. “Ini menunjukkan, bahwa Pertagas jauh lebih sehat dibandingkan PGN,” jelas Budyatna.

Diyakini Budyatna, tren penurunan laba bersih PGN memang memunculkan tanda tanya besar, itu betul. Sebab, jika dilirik dari sisi aset, PGN jelas-jelas lebih besar ketimbang Pertagas.

Tampaknya, Budyatna melihat, adanya kesan menutupi persoalan ini. Apalagi, hingga saat ini tidak ada respons dari Pemerintah untuk segera menyehatkan kembali BUMN tersebut. “Mengapa Presiden Jokowi sampai tidak tahu? Jangan-jangan memang sengaja ditutup-tutupi. Biasa, ABS,” kata Budyatna.

Nah, dalam konteks inilah, Budyatna mempertanyakan konsep Holding BUMN Migas. Sangat tidak masuk akal perusahaan yang sakit mengakuisisi perusahaan sehat. “Harusnya, Pertagas yang sehat yang mengambil alih PGN,” tegas Budyatna. (RFN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here