(Ilustrasi - dok: Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, JakartaHarga minyak Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) menembus level tertinggi sejak 2015 lagi. Fenomena itu, dikarenakan adanya spekulan atas kenaikan harga lebih lanjut di tengah penurunan produksi OPEC dan penurunan aktivitas pengeboran AS. Kendati, beberapa pihak telah memperingatkan bahwa kenaikan tersebut dapat kehabisan tenaga.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/1/2018), harga minyak WTI berada di level USD62,24 per barel pada pukul 02.52 GMT, 51 sen atau 0,8% di atas posisi terakhir mereka. Sebelumnya menandai kenaikan tertinggi sejak Mei 2015 sebesar USD62,56 per barel.

Sementara itu, harga minyak brent berada di level USD68,22 per barel, 44 sen atau 0,65% di atas penutupan terakhirnya. Harga minyak brent menyentuh level USD68,27 per barel pada pekan lalu, tertinggi sejak Mei 2015.

Pelaku pasar mengatakan, kenaikan harga minyak terutama didorong oleh spekulatif yang dituangkan ke dalam minyak mentah berjangka karena gagasan pasar yang lebih ketat setelah pengurangan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, yang akan berlangsung hingga 2018.

“Spekulan terus meningkatkan net mereka di ICE Brent. Menurut data pertukaran, spekulan meningkatkan posisi mereka dengan 4.175 lot untuk meninggalkan mereka dengan rekor bersih yang panjang 565.459 lot,” kata bank ING dalam sebuah catatan.

Sedikit penurunan jumlah rig pengeboran minyak baru untuk Amerika Serikat mendukung WTI. Jumlah pengeboran rig untuk minyak turun 5 menjadi 742 dalam pekan sampai 5 Januari, menurut perusahaan jasa minyak Baker Hughes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here