Karya Andi Sutisna (foto :kompas.com)

Serakan limbah di mata Andi Sutisna seperti kepingan puzzle, yang kemudian ia rangkai menjadi sebuah bentuk yang tergambar di imajinasinya.

Seperti halnya miniatur lokomotif yang dibuatnya dari sampah atau limbah botol di Sungai Cikapundung aliran Sungai Citarum. Melalui tangan kreatifnya, Andi menyulap barang yang tidak berguna itu menjadi bentukan utuh miniatur lokomotif.

Miniatur kepala kereta api yang dibuatnya merupakan salah satu manifestasi dari imajinasinya. Uniknya, miniatur ini dibuat dari barang buangan yang mengambang di pinggiran Sungai Cikapundung di sekitar rumahnya.

“Kebetulan rumah di pinggir Sungai Cikapundung. Saya lihat banyak sampah, karena bulat lonjong ya saya bentuk lokomotif,” Kata Andi yang ditemui di kediamannya di jalan Perintis kemerdekaan Kota Bandung, Jumat (9/2/2018).

Saat itu, Andi tak memperlihatkan seluruh miniaturnya lantaran telah dibersihkan beberapa hari lalu. Meski begitu Andi beranjak dari tempat duduknya dan mengambil beberapa contoh hasil karyanya, dua buah miniatur kereta lokomotif yang telah dibungkus plastik.

“Sengaja saya bungkus plastik agar tidak berdebu,” ucapnya sambil membuka plastik yang membalut salah satu miniatur kereta lokomotif buatannya.

Miniatur lokomotif yang pertama diperlihatkannya saat itu berukuran 40 cm. Terbilang kecil, namun tingkat kedetailannya hampir menyerupai lokomotif aslinya. Beberapa bahan yang terpasang merupakan bahan bekas limbah yang ditempel satu per satu.

“Ini yang paling kecil, bahan dasarnya juga bekas semua, paling lem sama kawat saja yang beli,” ujarnya.

Tak hanya itu, Andi memperlihatkan miniatur lokomotif lainnya yang berukuran lebih besar sekitar 1,5 meter. Bahan dasar tubuh miniatur lokomotif itu adalah triplek dan paralon bekas yang ditemukannya.

Barang bekas itu dibuat pola berdasarkan gambar kereta lokomotif dari sebuah kalender. Untuk mendapatkan bentuk detail tiga dimensi kereta, Andi mendatangi warung internet (warnet) dan meminta bantuan penjaga warnet untuk mencetak gambar lokomotif dari berbagai sudut.

Gambaran itu menjadi referensi baginya untuk membentuk miniatur kereta lokomotif. Barang-barang bekas di sekitar Sungai Cikapundung seperti tutup spidol, kaleng obat nyamuk, paralon bekas, gulungan benang, cangkokan lampu, triplek, dan lainnya ia kumpulkan.

Barang-barang tersebut kemudian ditempelkan satu per satu setelah sebelumnya bentukan pola badan kereta telah ia buat dari bahan paralon bekas dan triplek.

Sampai saat ini sudah ada sekitar tujuh miniatur lokomotif kecil dan satu lokomotif berukuran besar yang dimilikinya.

“Pembuatannya membutuhkan waktu seminggu sampai dua minggu kalau yang kecil. Kalau yang gede biasanya sebulan kurang. Karena buatnya itu pas waktu senggang saja, pas santai,” jelasnya. (kompas.com/AM7)