Boleh jadi, inovasi yang dilakukan oleh Kementerian PUPR, terutama Balitbang PUPR itu patut diacungi jempol. Tapi akan lebih elok, jika hasil dari inovasi Balitbang PUPR tadi mendapat sertifikasi dari lembaga sertifikasi bertaraf Nasional atau pun Internasional jika perlu. Sebab, untuk penggunaan Aspal berbahan plastik dan karet untuk jalan, ada nyawa pengguna jalan yang menjadi taruhan. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Kabarnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal menerapkan teknologi campuran aspal plastik dan aspal karet untuk pemeliharaan jalan nasional di beberapa provinsi. Pertanyaannya, apakah ada jaminan jika campuran aspal plastik dan aspal karet itu aman bagi para pengguna jalan?.

Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR, Edwin Nirwan mengatakan, penerapan teknologi aspal plastik merupakan upaya pemerintah dalam pengurangan limbah kantong plastik.

Selain itu, Edwin juga mengatakan, bahwa Balitbang PUPR berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan campuran aspal, yang dapat membuat aspal jadi lebih awet.

Edwin bilang, penggunaan aspal campuran limbah plastik telah diuji coba pada beberapa ruas jalan nasional di Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar dan Tol Tangerang-Merak. Berdasarkan hasil uji laboratorium oleh Balitbang Kementerian PUPR pada 2017, campuran aspal panas dengan tambahan limbah plastik lebih tahan terhadap deformasi dan retak dibandingkan dengan campuran aspal panas biasa.

“Penggunaan limbah plastik juga sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan, bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan. Saat dihampar sebagai aspal panas, ketika diukur suhunya yaitu 150-180 derajat celcius, yang artinya plastik tidak terdegradasi dan masih jauh dari batas degradasi sampah yaitu 250-280 derajat Celcius atau suhu dimana plastik mengeluarkan racun” ujar Edwin dalam keterangan resminya, Minggu (8/4).

Sekedar informasi, pada 2019, jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5 ton-5 ton per kilometer (km) jalan, maka limbah plastik dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190 ribu km.

Pada periode 2015-2019, pemerintah akan membangun 2.600 km jalan nasional, 1.000 km jalan tol dan pemeliharaan jalan di semua wilayah, dengan kebutuhan aspal mencapai 1,5 juta ton per tahun. Pemanfaatan limbah plastik untuk aspal ini diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat terhadap permasalahan sampah di Indonesia.

“Pada Forum Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 mendatang kita akan tunjukan pada perwakilan negara yang hadir terkait dengan solusi masalah limbah plastik ini,” kata Edwin.

Menurut Achmad, dari pada menerapkan kebijakan cukai untuk membatasi konsumsi plastik, lebih baik pemerintah mencari cara untuk mengubah persepsi plastik sebagai sampah, menjadi komoditas yang menguntungkan dan bisa bermanfaat langsung ke masyarakat. Salah satunya seperti menjadi bahan campuran aspal.

Boleh jadi, inovasi yang dilakukan oleh Kementerian PUPR terutama Balitbang PUPR itu patut diacungi jempol. Tapi akan lebih elok lagi, jika hasil dari inovasi Balitbang PUPR tadi mendapat sertifikasi dari lembaga sertifikasi bertaraf Nasional atau pun Internasional jika perlu. Sebab, untuk penggunaan Aspal berbahan plastik dan karet untuk jalan, ada nyawa pengguna jalan yang menjadi taruhan. (RFN)