Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise (foto : poskuoang)

Bintangtimur.news – Kupang – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise meminta segenap warga bangsa khususnya orangtua, para guru, dan aparat penegak hukum agar senantiasa memberi perlindungan dan perhatian khusus kepada kaum perempuan dan anak-anak dari ancaman kekerasan.

Perempuan dan anak kerap menjadi korban kekerasan dan perdagangan orang (human trafficking).

Yohana menyebut, ada lima daerah di Indonesia yang tercatat memiliki angka kejahatan terhadap prempuan dan anak-anak yang tinggi.

Kelimanya ialah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Khusus NTT, kata Yohana, menjadi perhatian serius pihaknya. NTT masuk zona merah (wilayah rawan) kasus human trafficking.

“Kami telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk langkah-langkah pencegahannya,” ujar Yohana saat berdialong bersama ratusan pelajar di Labuan Bajo, NTT, kemarin.

Menurut Yohana, di beberapa negara Asia seperti Tiongkok, Korea, Malaysia, dan Brunei Darusalam banyak perempuan menjadi korban perdagangan orang yang berujung pada kekerasan seksual.

Sebelumnya, mereka diambil dari negara asalnya dengan dijanjikan akan dipekerjakan di luar negeri dengan upaah menggiurkan.

“Korbanya termasuk dari Provinsi NTT ini. Kita harus hentikan secara bersama tipu muslihat orang yang memanfaatkan situas ini. Kebanyakan para korban sudah kita selamatkan,” katanya.

Untuk mencegah perdagangan orang itu, lanjut Yohana, koordinasi senantiasa di lakukan bersama ketua gugus tugas yakni para gubernur di lima provinsi yang menjadi target penjualan anak atau prempuan.

“Untuk itu, sistem sedang di bangun. Saya minta orangtua menjalankan peran penting dalam mendidik anak, juga lembaga pendidikan. Sosialisasi terkait masalah ini terus dan senantiasa di bangun hingga ke pelosok negeri,” tegas Yohana.

Yohana mengimbau para orangtua, guru, serta pemerhati perempuan dan anak untuk terus memberikan pemahaman terhadap anak agar mereka tidak menjadi korban janji manis yang diberikan para pelaku human trafficking.

“Orangtua harus sadarkan anaknya. Jangan percaya dengan janji palsu oknum-oknum itu.” (AM7/mediaindonesia)