Tahun 2017 pendapatan negara dari cukai rokok sebesar Rp150 triliun. (Foto-dok:Istimewa)

BINTANGTIMUR.NEWS, Jakarta. – Seperti kita tahu, kretek sebagai komoditi strategis nasional sedang menghadapi tekanan berat, itu betul. Ironisnya, justru tekanan itu dilakukan oleh bangsa sendiri. Lihat saja, manuver gerakan anti tembakau begitu mengkreasi dan memprovokasi seorang warga untuk menuntut dua perusahaan rokok nasional dengan alasan yang tak masuk di akal.

Musyawarah kretek pun digelar, para peserta Musyawarah Kretek yang terdiri dari 17 lembaga itu menilai, kedaulatan petani tembakau dan cengkih dihancurkan secara sistematis lewat intervensi legislasi.

“Konspirasi global dan intervensi asing semakin kuat menggerogoti kedaulatan bangsa. Pemerintah ditekan untuk mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang merupakan representasi kekuatan global yang merongrong kedaulatan bangsa,” ujar Komite Nasional Pelestarian Kretek, Azami Mohammad di Jakarta, Rabu (21/3).

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia Budidoyo menilai, kekuatan global itu diwakili FCTC sebagai bentuk kolonialisme dengan jubah baru. Salah satu formula untuk mendukung kehadiran FCTC itu, adalah gelaran Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACTH) 12th yang akan digelar di Bali.

Lantas, Budidoyo bilang, aksesi FCTC ini memiliki dampak penghancuran terhadap industri kretek nasional, karena 38 butir pasal di dalamnya bertujuan untuk melarang penyebaran produk hasil tembakau. Ia menilai sikap pemerintah dengan tidak meratifikasi FCTC itu, sudah tepat.

(Foto-dok:Istimewa)

Menurut peserta Musyawarah Kretek, Indonesia memiliki alasan-alasan kuat untuk tidak meratifikasi FCTC, di antaranya: Pertama, Indonesia memiliki kepentingan yang besar terhadap komoditas tembakau dan produk hasil tembakau. Negara sangat bergantung pada komoditas ini sebagai pendapatan negara. Tahun 2017, pendapatan negara yang dipungut dari cukai rokok sebesar Rp150 triliun.

Kedua, Indonesia juga memiliki produk hasil tembakau yang khas, yaitu, kretek. Ketiga, industri kretek merupakan industri yang memberikan manfaat besar bagi rakyat Indonesia. Terdapat 6 juta orang yang dihidupi dari industri ini. Keempat, industri kretek selama ini terbukti merupakan industri yang tahan terhadap berbagai hantaman krisis.

Nah, berangkat dari keprihatinan terhadap gerakan anti tembakau yang mengancam kedaulatan nasional, Peserta Musyawarah Kretek selaku stakeholder kretek pun menyatakan tiga sikap.

Yakni, menolak semua bentuk intervensi kepada pemerintah untuk mengaksesi FCTC. Kedua, menolak semua bentuk produk hukum yang mengancam kedaulatan petani tembakau dan cengkih. Terakhir, melawan semua bentuk gerakan dan konspirasi dari mana pun yang berupaya menghancurkan kedaulatan kretek nasional.

Pun peserta Musyawarah Kretek mengimbau, agar masyarakat luas tidak terjebak oleh segala bentuk gerakan anti tembakau yang menggunakan berbagai isu untuk menghancurkan kedaulatan nasional. (RFN)