Bintangtimur.id-Jakarta. Batik ramah lingkungan diperkenalkan Rumah Kreatif Balikpapan binaan Chevron. Dipuji Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Semua orang di negeri ini pastilah mengenal batik. Tapi tahukah Anda bahwa saat ini sudah ada batik ramah lingkungan?

Kain batik ramah lingkungan ini dipopulerkan oleh Rumah Kreatif Balikpapan, yang terletak di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sebagai warisan leluhur, batik memang membanggakan. Kain bercorak khas berbagai budaya di Nusantara itu, bahkan sudah dikenal di dunia internasional, berkat pengakuan UNESCO bahwa batik merupakan warisan asli budaya Indonesia.

Banyak tokoh dunia yang jatuh cinta kepada batik. Almarhum Nelson Mandela, mantan presiden yang juga tokoh apartheid dari Afrika Selatan, dikenal sebagai pecinta batik.

Berkat suvenir yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia, Mandela langsung jatuh cinta pada kain batik. Mandela dikenal sering mengenakan kemeja batik saat melakukan berbagai kegiatan kenegaraan, termasuk saat melakukan kunjungan ke berbagai negara.

Lalu, seperti apa batik ramah lingkungan? Rumah Kreatif Balikpapan (RKB), yang berdiri 2012 berkat dukungan Chevron, memperkenalkan kerajinan batik yang memiliki ciri khas tersendiri.

RKB berhasil membuat dan mengembangkan batik khas Balikpapan. Hebatnya, semua batik produksi RKB merupakan batik ramah lingkungan karena menggunakan bahan pewarna alami. Berbagai bahan pewarna alami ini diperoleh dari tumbuhan lokal.  Sebut saja secang yang dipergunakan untuk menghasilkan warna merah. Kemudian kulit manggis untuk memperoleh warna ungu. Atau kunyit untuk mendapatkan warna kuning dan jingga. Masih ada lagi daun jambu, mahoni dan kayu manis untuk warna coklat, krem, dan abu-abu.

Corak batik buatan RKB memang tergolong unik. Muncul berbagai corak yang menggambarkan kekayaan khas daerah setempat. Sebut saja corak kilang minyak yang terinspirasi dari banyaknya kilang minyak yang merupakan kekayaan alam melimpah di Balikpapan. Masih ada corak lainnya, seperti mangrove, anggrek, pasak bumi dan kantong semar.

PENYANDANG DIFABEL

Semakin dikenalnya batik ramah lingkungan ini oleh warga Kalimantan Timur maupun para turis, baik domestik maupun asing, tak bisa lepas dari peran RKB yang belakangan menjelma menjadi salah satu pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Balikpapan.

Sejak berdiri, RKB memang disiapkan menjadi wadah pembuatan kerajinan lokal, berbasis pada kemampuan mendaur ulang berbagai limbah lingkungan.

Hal yang menarik, RKB telah menampung dan membina banyak ibu rumah tangga dan perempuan setempat, agar memiliki kegiatan kreatif dan produktif yang mampu menambah penghasilan rumah tangga. Tak hanya itu,  beberapa anggota RKB adalah para penyandang disabilitas.

Keberadaan RKB ini bahkan menarik perhatian Yohana Susana Yembisa, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA). Secara khusus, Menteri Yohana bahkan mengapresiasi peran RKB dalam memberdayakan kaum perempuan, khususnya para difabel.

“Saya sudah melihat rumah kreatif Balikpapan. Ternyata, ibu-ibu di Balikpapan diberdayakan membuat batik tulis termasuk mereka yang difabel. Bergabungnya wanita difabel ini sesuatu yang luar biasa,” puji Menteri Yohana, saat melakukan kunjungan ke RKB.

Tak hanya itu, keberadaan RKB juga mendapat perhatian khusus dari pihak Pemerintah Kota Balikpapan berkat kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi setempat. Arita Rizal Effendi, istri Wali Kota Balikpapan, meminta anggota RKB untuk terus berkarya. Menurutnya, apa yang sudah dilakukan RKB sudah baik. Hanya saja, semua anggota harus memiliki jiwa marketing dan keinginan untuk berbuat lebih baik lagi, agar produk-produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran,” harap Arita.

Pihak Pemkot Balikpapan memang menyadari bahwa RKB dan UKM lainnya, sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayahnya. UKM diyakini memiliki beberapa fungsi utama. Salah satunya, sebagai penyedia lapangan kerja bagi jutaan orang yang tidak tertampung di sektor formal.

Sejauh ini, sektor UKM juga terbukti mempunyai kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto dan juga sebagai sumber penghasil devisa negara, melalui ekspor berbagai jenis produk yang dihasilkan. Tak terkecuali produk batik ramah lingkungan.

Keberadaan RKB memang tak bisa lepas dari peran Chevron, perusahaan migas multinasional yang beroperasi di wilayah Kalimantan Timur. Selain menghasilkan migas dari operasi lepas pantai yang penting bagi penyediaan energi nasional, Chevron juga menjalankan program-program investasi sosial guna mendukung peningkatan kehidupan sosial dan ekonomi, terutama menumbuhkan sektor kewirausahaan yang berkelanjutan serta mandiri.

“Melalui kerjasama dengan berbagai mitra, kami mengidentifkasi dan menjalankan beberapa program untuk meningkatkan standar kehidupan sosial ekonomi masyarakat di wilayah operasi kami menjadi lebih baik. Salah satu contohnya adalah RKB ini,” kata Dony Indrawan, Corporate Communications Manager Chevron Indonesia.

Berminat memiliki batik ramah lingkungan? Jangan lupa singgah ke RKB jika ke Balikpapan.