Oleh Isidorus Lilijawa

Cukup lama sepak bola NTT berhadapan dengan persoalan-persoalan klasik yang membuat wajah sepak bola NTT lesu dan bermuram durja berkepanjangan. Belum adanya fasilitas olahraga sepak bola yang memadai dan standar seperti lapangan sepak bola, dan sarana latihan lainnya; belum adanya pembinaan sepak bola usia dini (SSB) yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik serta tidak adanya kompetisi sepak bola rutin untuk menemukan dan menempa para pemain lokal adalah serangkaian problem klasik itu. Ini persoalan bersama, yang kini mulai dicarikan jalan keluar secara bersama-sama. Cukup luar biasa dan fenomenal. Dalam satu dua tahun terakhir, perkembangan sepak bola NTT kian menggeliat dan menggairahkan.

Momen Kebangkitan

Sebagaimana dilansir Pos Kupang (9/3/2017), saat ini NTT menyumbang 8 pemain untuk ikut seleksi nasional. Timnas U-22: Yabes Roni Malaifani (Alor). Timnas U-19: Aldo Lekidan Fladiano Soares (SSB Bintang Timur Atambua), Gery Sae (Ngada), Abdul Hamid dan Endong Tirtayasa (Flotim), Muhamad Junedin (Kota Kupang). Timnas U-15: Ruslan Bale Esa (Alor). U-16: Paulinus Gabriel Ati (SSB Bintang Timur Atambua).

Ada juga pemain NTT yang sekarang merumput di beberapa klub tanah air. Di Bali United ada Yabes Roni Malaifani (Alor) dan trio Ngada: Alfonsius Kelvan, Jackson Tiwu, Yunias Bate. Di Bhayangkara FC ada Alsan Sanda (Kota Kupang). Ada juga di klub Pusamania FC, Ricky Nelson Ndun sang pelatih (Kota Kupang). Bahkan ada beberapa nama yang bermain di negara tetangga Timor Leste seperti Yulius Mauloko, Edo Soares, Deni Pramono, Yezalde de Concecao, Dominggos Soares dan Nelson Freitas.

Bukan cuma itu. Geliat sepak bola NTT semakin menggembirakan ketika dua putra NTT masuk dalam kepengurusan PSSI pusat periode 2016 -2020. Pendiri SSB Bintang Timur, Fary Francis didapuk sebagai Ketua Bidang Sport Intelligence PSSI dan Lambert Ara Tukan menempati salah satu posisi bidang di PSSI pusat. Ini berkat bagi NTT bahwa ada putra NTT yang masuk struktur PSSI pusat, yang tentunya membawa dampak positif bagi sepak bola NTT.

Tak berlama-lama. Ketua Bidang Sport Intelligence PSSI langsung berkomunikasi dengan pelatih Timnas U-19 Indra Syafrie untuk melakukan seleksi pemain nasional mulai dari NTT, mulai dari batas negeri. Ini sudah dilaksanakan melalui pra seleksi di Kupang dan seleksi langsung oleh Coach Indra di SSB Bintang Timur. Atas dukungan Asprov PSSI NTT, dilaksanakan pelatihan bersertifikasi nasional bagi para wasit di NTT.

Momentum lain yang menandai lahirnya gairah sepak bola NTT adalah semakin besar animo masyarakat NTT untuk terlibat dalam urusan-urusan sepak bola. Terwakilkan oleh hadirnya komunitas MASGIBOL (masyarakat gila bola) NTT yang diawaki Sipri Seko, Piter Fomeni dan Abdul Muis, mantan-mantan pemain sepak bola NTT yang masih memiliki cinta luar biasa bagi sepak bola NTT. Dalam banyak urusan sepak bola di NTT, Masgibol mengambil peranan penting. Mereka tidak serumit mengurus birokrasi sepak bola.

Dengan modal pertemanan, hobi hingga gila bola, kegiatan seleksi pemain Timnas U-19 dan U-16 mereka fasilitasi. Juga pelatihan pelatih lisensi D di SSB Bintang Timur hingga beberapa turnamen diantaranya Piala Menpora, dan even-even sepak bola lainnya di NTT. Dari aspek pembinaan usia dini, perkembangan cukup menggembirakan.

Sudah lahir beberapa SSB yang memberi andil bagi persepakbolaan NTT diantaranya SSB Tunas Muda yang diarsiteki Anton Kia, mantan pemain sepak bola NTT. Setahun lalu hadir SSB Bintang Timur di Atambua yang didirikan Fary Francis, mantan penjaga gawang Bank Summa dan Persatuan sepak bola Dili (Persedil). Hingga lahirnya Akademi sepak bola Bali United Kupang yang dimotori David Fulbertus, pemain dan pencinta sepak bola NTT. Wadah-wadah ini adalah dapur bagi lahirnya para pemain sepak bola NTT yang pada saatnya berkiprah dalam industri sepak bola tanah air.

Kiblat dari Timur

Para pemain sepak bola asal NTT memiliki potensi untuk bertarung dalam insdustri sepak bola nasional maupun internasional. Potensi ada. Talenta ada. Butuh sentuhan-sentuhan skill dan mental agar benar-benar layak masuk dalam industri sepak bola itu. Karena itu, tidak heran jika kiblat sepak bola Indonesa saat ini adalah menuju timur, mencari bintang-bintang dari timur.

Coach Indra Sjafrie, pelatih Timnas U-19 mengawali debutnya sebagai pelatihTimnas saat ini dengan melakukan seleksi pemain U-19 mulai dari NTT. Bahkan ia mesti datang lagi untuk secara khusus menyeleksi pemain-pemain U-19 di Kabupaten Ngada, mengingat Ngada adalah barometer sepak bola NTT yang banyak melahirkan pemain-pemain bertalenta. Mulai dilirikanya pemain-pemain sepak bola asal NTT menandai masuknya NTT dalam dunia industri sepak bola.

Sepak bola di berbagai belahan dunia saat ini bukan hanya menjadi sebuah olahraga yang digandrungi oleh masyarakat luas tetapi juga sudah berkembang menjadi sebuah “industri” besar. Hal ini bisa dilihat dari berbagai aspek. Sepak bola sudah menjadi olahraga yang sangat digemari dengan penonton setia yang luar biasa banyak jumlahnya di berbagai belahan dunia khususnya untuk liga-liga top dunia misalnya Liga Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, dll.

Hal ini tentunya memicu harga hak siar liga-liga sepak bola begitu tinggi. Selain itu, harga perpindahan pemain dalam industri sepak bola saat ini semakin “tidak masuk akal”. Hal ini tentu menjadi sarana investasi yang menghasilkan bagi para pebisnis. Tidak heran para pebisnis banyak yang tertarik memiliki klub sepak bola. Klub-klub pun mulai berani mencari pemain-pemain top dari luar. Membelanjakan para pemain dan pelatih adalah hitungan bisnis. Industri sepak bola adalah soal cost dan benefit sebuah klub.

Kontrak-kontrak dengan pemain dibuat. Standarnya jelas, profesionalisme yang mendatangkan keuntungan bagi klub. Dalam industri macam ini, persaingan para pemain menjadi tidak terelakkan. Karena itu, hanya pemain yang profesional, bertalenta bagus, punya skill dan mental yang mumpuni, disiplin dan berdedikasi bagi klub yang bisa menjadi incaran klub-klub sepak bola.

Ini peluang sekaligus tantangan bagi para pemain sepak bola NTT, pengurus PSSI NTT, wadah pembinaan sepak bola usia dini (SSB) dan masyarakat pada umumnya. Kehadiran pemain-pemain NTT yang merumput di klub-klub lain dalam dan luar negeri adalah daya dorong dan daya tarik luar biasa bagi pembinaan sepak bola di NTT.

Dengan program pembinaan yang mumpuni serta pergelaran turnamen yang rutin terukur bukan tidak mungkin semakin banyak bintang sepak bola tanah air lahir dari timur, dari perbatasan, dari pinggiran, dari bumi NTT. Proficiat. Salam sepak bola…