(Belajar dari SSB di Eropa)

*Catatan Fary Francis

Siapa gerangan yang tidak kenal Lionel Messi? Gerard Pique? Andreas Iniesta? Mereka hari ini adalah bintang sepak bola dunia yang bersinar. Diidolakan sejagat. Dipuja-puji. Penampilan di lapangan hijau pun di luar lapangan selalu dinanti. Menjadi bintang iklan. Pendapatan hingga ratusan miliar per pekan, per bulan. Hidup mewah. Semua tercukupi. Kehadiran mereka selalu menghipnotis publik. Tentang mereka-mereka hari ini adalah tentang bintang-bintang sepak bola yang menjadi legenda: legenda klub, legenda tim nasional, legenda para fans hingga melegenda dalam sanubari publik.

Pernahkah kita membayangkan Messi, Pique, Iniesta 15 – 20 tahun lalu? Sungguh lain ceritanya. Bukan bintang. Mungkin hanya kunang-kunang bahkan lilin kecil. Mereka kecil, tak dikenal, tak diidolakan, tidak disoraki. Mereka hanya siswa sekolah sepak bola Barcelona. Mereka berlatih, berlatih dan berlatih. Menempa diri dengan skill sepak bola, mengasah mental dalam arahan para pelatih, membina diri dalam sederet aturan dan disiplin. Mereka dibentuk bukan hanya menjadi seorang pemain sepak bola yang bisa meraih juara dengan aneka teknik dan taktik tetapi juga diasah dengan beragam nilai kehidupan: disiplin, loyalitas, respek, kemandirian, kerja sama, sportivitas, pengorbanan dan bela rasa. Spirit juara ditanam, namun spirit nilai kehidupan juga ditabur.

Hari ini ketika mereka menjadi bintang sepak bola, itu bukan kebetulan. Mereka telah melalui proses menjadi kunang-kunang, lilin hingga akhirnya menjelma menjadi bintang. Sekolah sepak bola adalah wadah berproses. Di sini, poison (racun) dibuang. Egoisme, pesimisme, mental enak, kehilangan respek, tak beraturan adalah racun-racun hidup yang mesti dieliminir. Sebaliknya, passion dihidupkan. Passion itu pengorbanan, daya juang, daya tangkap, daya tanggap, daya bathin dihidupkan. Itulah passion sekolah sepak bola. Investasinya jangka panjang. 10 – 15 tahun kemudian baru dirasakan. Perlu kesabaran. Menghargai proses hingga sederet pengorbanan harus dilalui sebelum meraih bintang.

* * *

Saya bersyukur dalam waktu beberapa hari yang lalu bisa mampir di Sekolah Sepak Bola Barcelona, tempat di mana Messi, Pique dan Iniesta mengejar mimpi sejak 15 – 20 tahun yg lalu. Berada di tempat itu saya mengamati setiap gambar dan tayangan tentang bintang-bintang itu ketika mereka ‘belum apa-apa’. Benar. Menghargai proses itu penting dan sekolah sepak bola itu adalah suatu proses. Hal yang sama juga saya rasakan dan amati ketika mengunjungi beberapa klub elit Eropa lainnya seperti Juventus dan Real Madrid.

Sebagai Ketua Bidang Sport Intelligence PSSI, pengalaman ini sangat berharga dalam menata pembinaan di sekolah-sekolah sepak bola tanah air. Menjadi bintang seperti Messi bukanlah hal mustahil. Toh, ia pernah menjadi semacam kunang-kunang kecil. Anak-anak Indonesia, anak-anak NTT, anak-anak perbatasan bisa menjadi seperti Messi suatu saat nanti. Semua butuh kesabaran. Butuh proses. Poison dibuang. Passion dihidupkan. Yah, sekolah sepak bola adalah soal passion. No pain no gain. Tak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Mudah-mudahan, sekolah sepak bola di tanah air, di NTT dapat menghasilkan bintang-bintang sepak bola di masa depan; bintang di lapangan hijau dan bintang dalam medan kehidupan.